"Itu hasil analisa sementara yang kita dapatkan setelah mengamati langsung ke lokasi kejadian. Sedikit saja percikan api dalam ruangan dengan konsentrasi gas metan tinggi, sudah cukup untuk membuat ledakan besar," ujar Manajer Satkorlak Penanggulangan Bencana Sumatera Barat, Ade Edward, kepada detikcom melalui telepon, Rabu (17/6/2009).
Secara teknis, menurut dia, sebelum memasuki lubang tambang kandungan gas metan di dalamnya harus dikurangi lebih dulu dengan menggunakan blower sampai kandungan gas metan di dalam lubang tersebut berada di titik aman untuk aktivitas pertambangan. Penggunaan blower merupakan bagian dari sistem kerja pertambangan yang wajib digunakan untuk menciptakan sirkulasi udara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejauh ini, menurut dia, pihaknya belum dapat menyimpulkan lebih jauh bagaimana ledakan yang menewaskan sedikitnya 30 pekerja tambang itu terjadi. Namun, berdasarkan hasil analisa sementara, tingginya kandungan gas metan dan bermasalahnya peralatan genset yang digunakan pekerja tambang menjadi titik awal timbulnya insiden tersebut.
"Kita menduga, genset yang digunakan para pekerja itu bermasalah sehingga menyebabkan blower tidak jalan. Kalau blower tidak jalan maka akan terjadi penumpukan gas metan yang apabila dipicu sedikit saja percikan api dapat menimbulkan ledakan besar. Dalam kejadian kali ini, hampir dapat dipastikan yang meledak adalah udara bermuatan gas metan tinggi karena dipicu arus pendek dari peralatan listrik yang digunakan," urainya.
(yon/djo)











































