Bocah Usia 16 hari Terserang Hydrocephalus

Bocah Usia 16 hari Terserang Hydrocephalus

- detikNews
Rabu, 17 Jun 2009 16:47 WIB
Bocah Usia 16 hari Terserang Hydrocephalus
Pekanbaru - Setiap orangtua pasti mendambakan kelahiran anaknya dengan bentuk tubuh yang sempurna. Namun malang bagi pasutri Supriadi(25) dan Titin Suryati (22) harus menerima kenyataan pahit. Begitu melahirkan, putri pertamanya sudah menderita penyakit hydrocephalus dan ada benjolan berisikan cairan di bagian belakang kepalanya.

Suryani itulah nama yang diberikan orangtuanya ketika lahir pada 30 Mei 2009 lalu. Tubuh mungil yang baru berusia usia 16 hari itu, kini menjalani perawatan intensif di ruang Perinatologi, RSUD Arifin Ahcmad, Jl Hangtuah, Pekanbaru.

Bocah malang ini terbaring di box bayi dengan selang infus di tangan dan mulutnya. Kepala Suryani terlihat tidak sempurna karena kondisinya membesar. Selain mengalami hydrocephalus, kepala belakang sebelah kanannya terdapat cairan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cairan yang membentuk benjolan, juga ditumbuhi rambut-rambut halus. Dengan adanya benjolan lunak tersebut, selama dibaringkan bayi ini harus miring ke sebelah kiri. Benjolan itu diganjal dengan bantal yang terbuat dari balon berisikan air.

"Selama dalam perawatan anak ini tidak rewel. Dia juga jarang menangis, sebagaimana bayi-bayi lainnya yang ada di rungan ini. Dia baru akan menangis, kalau benjolan itu tersentuh dengan tangan kita. Kita kadang terpaksa menyentuhnya, karena harus mengganti popoknya," kata seorang perawat yang enggan disebutkan namanya kepada detikcom, Rabu (17/06/2009).

Dari data yang ada di RSUD Pekanbaru, bayi ini ketika lahir memiliki berat badan 2,8 kg. Dengan usianya yang baru setengah bulan ini, berat badannya bertambah menjadi 3,3 kg. Namun kondisi tubuh bocah ini sangat kurus sekali. Sehingga diperkirakan berat badannya bertambah karena membesarnya benjolan cairan yang ada di belakang kepalanya.

Bayi mungil yang belum berdosa itu, tercatat sebagai warga Jl Purnama, Gang Purnama, Kecamatan Dumai Barat, Kota Dumai, terpaut 250 km arah utara dari Pekanbaru.

Sehari-harinya, ayah bocah itu hanya bekerja sebagai kenek buruh bangunan dengan gaji Rp 20 ribu per hari. Itupun tidak menentu, kadang ada pekerjaan kadang juga menganggur. Kemiskinan membuat Suryani menjalani perawatan dengan berberbekal kartu miskin, alias segala biaya ditanggung pemerintah.

Kendati biaya perawatan gratis, namun Supri mengaku juga membutuhkan uluran tangan dari orang lain. "Sudah lima hari ini saya di Pekanbaru menjaga anak saya. Untuk kebutuhan makan sehari-hari saya bersama istri harus menumpang makan di rumah sanak famili saya," kata Supri.

Supri menceritakan, sebelum ke rumah sakit, lebih awal istrinya dibawa ke bidan. Karena bidan tidak mampu, lantas Titin di rujuk ke RSUD Dumai. Di rumah sakit ini Titin juga tidak dapat melahirkan secara normal. Lantas, tim medis merekomendasi untuk dilakukan operasi.

"Usai operasi, dokter menyebut anak saya lahir tidak normal, ada benjolan di kepalanya. Mungkin karena ada benjolan besar inilah, istri saya tidak dapat melahirkan secara normal," kata Supri yang selama ini hidup menumpang di rumah mertuanya yang juga dari keluarga tidak mampu.

Ketika mengetahui buah hatinya mengalami penyakit, Supri langsung syok. Tak ada kata yang bisa terucap ketika menyaksikan anaknya terbaring dengan benjolan yang cukup besar di kepalanya. Mulut pria jebolan SD itu hanya terkatup, hatinya teiris menyaksikan betapa beratnya penyakit yang diderita putrinya itu.

"Awalnya saya sulit menerima kenyataan ini. Saya tak tega melihatnya. Saya hanya berdoa, semoga Allah SWT memberikan kami kekuatan serta memberikan kesembuhan kepada anak kami," harap Supri.

Ketika sudah 10 hari menjalani perawatan di RSUD Dumai, akhirnya Suryani di rujuk ke RSUD Pekanbaru. Selama perawatan di Dumai, pihak rumah sakit tidak membebankan biaya pengobatan dan operasi istrinya. "Saya cuma bayar Rp 200 ribu untuk beli popok dan pempers bayi di rumah sakit itu," cerita Supri.

Kini Supri dan Titin mengharapkan uluran tangan dari para dermawan untuk biaya pengobatan anaknya.

(cha/djo)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads