"Membangun lembaga perkawinan harus dimulai dari kesetaraan. Kalo orang pacaran sering bermula dari ketidakrasionalitasan," ujar Manager Riset LSM Perempuan Kalyanamitra, Hegel Terome saat berbincang dengan detikcom, Rabu (17/6/2009).
Hegel lantas menjelaskan perbedaan masyarakat Indonesia dengan orang barat dalam mengantisipasi KDRT. Di negara barat, sebelum menikah pasangan telah membuat kesepakatan tentang banyak hal terkait hubungan mereka setelah menikah.Β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hegel menjelaskan KDRT merupakan kekerasan berbasis gender. Kekerasan tersebut biasa terjadi karena adanya ketimpangan kekuasaan antara istri dan suami. "Misalkan suami dari kondisi orang kaya, dia punya akses untuk memperlakukan istri dengan semena-mena," imbuhnya.
Berdasarkan hasil penelitian, KDRT juga seringkali dimulai dari posisi ekonomi. "Banyak istri tergantung dari suaminya, lalu para suami punya modal dan suami bisa merasa menjadikan istri sebuah benda. Karena posisi ekonomi yang rentan," ujarnya.
Disinggung apakah ada laki-laki yang mengalami KDRT, Hegel membenarkannya. Hanya saja, keadaan di Indonesia agak berbeda dengan negara-negara maju. "Ada juga, laki-laki dengan posisi ekonomi lemah yang bergantung dengan istrinya itu bisa (memicu) KDRT," ujarnya.
"Kalau di Indonesia kan yang terekspos laki-laki itu stres, mabuk, lalu mukul orang. Jadi sisi macho-nya yang diperlihatkan. Padahal ada juga yang tergantung pada istrinya," imbuh Hegel.
(amd/iy)











































