"Kalau cuma sejuta ngga cukup Pak, plafon saya jebol semua. Banyak kaca pecah juga, saya minta yang banyak sekalian, kalau diberi Rp 5 juta alhamdulilah," tutur Yulir, kepada petugas dari Mako Brimob yang mulai mengukur-ukur kaca rumahnya, di Perumahan Vila Kalisari, Kelapa Dua, Depok, Rabu (17/6/2009).
Petugas Mako Brimob itu ditugaskan atasannya untuk mengecek rumah warga yang menjadi korban kebakaran disertai ledakan di Mako Brimob. Rumah Yulir dengan Mako Brimob hanya berjarak kira-kira 50 meter saja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya cuma ibu rumah tangga, cuma hidup dengan uang pensiunan almarhum suami saya yang bekerja di Dinas Perhubungan. Saya tinggal di sini sudah hampir 15 tahun," ujar Yulir. Yulir kemudian memperkenalkan tiga anaknya yang kebetulan sedang berkumpul di rumah.
"Anak saya tiga, yang pertama namanya Sarah (19 tahun) kuliah di Bandung, kedua namanya Akbar (17 tahun), dan yang ketiga Majim (7 tahun)," kata Yulir sembari menyuruh anak-anaknya menyalami detikcom.
Yulir kembali mengenang kejadian Rabu dinihari. "Saya lagi tidur, semuanya bangun, keras sekali ledakannya. Setelah itu bau seperti petasan dan keluar asap dari dalam (markas Brimob). Pagi-pagi banyak orang lagi berdiri rame-rame tahu-tahu ada pecahan granat kena pagar keras sekali, sekarang sudah diambil," bebernya.
(van/nrl)











































