"Seharusnya subsidi pemerintah bisa lebih rendah, bahkan tarifnya bisa mencapai Rp 2.500-3.000," kata peneliti ICW Agus Sunaryanto saat jumpa pers di kantornya, Jl Kalibata Raya, Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2009).
Menurut Agus, tarif Rp 3.500 saat ini terjadi akibat adanya penunjukan langsung operator lewat konsorsium dengan tarif Rp 12.885 per kilometer. Padahal jika dilakukan lewat tender, operator lain siap menawarkan harga hingga Rp 9.371 per kilometer.
Seperti diketahui, saat ini penentuan tarif tiket bus TransJ ditentukan per kilometer. Setiap kilometer laju bus dikalikan tarif tersebut. Sedangkan untuk menambal pemasukan dari tiket, Pemprov DKI mengucurkan subsidi setiap bulannya. Agus menilai, ada pemborosan dalam proses penentuan tarif ini.
"Kalau misalkan mengangkut penumpang dari Blok M-Ragunan itu wajar, tapi biaya dari pool ke Blok M lalu ke tempat pengisian bahan bakar gas bagaimana?" kecam Agus.
Untuk itu, Agus meminta BLU TransJ segera membuat kebijakan baru. Perlu dibuat mekanisme tender yang lebih transparan supaya angkutan publik ini bisa lebih terjangkau masyarakat.
"Subsidi APBD DKI juga bisa ditekan sampai 34-43 persen kalau mau dijalankan dengan baik," tutupnya.
(mad/nrl)











































