Berdasarkan informasi yang diperoleh detikcom, di RSUD Sawahlunto terdapat satu korban tewas yang belum bisa diidentifikasi karena tubuhnya hangus terbakar. Selain itu, rumah sakit tersebut juga merawat 9 korban lainnya yang berhasil selamat. Dari 9 korban selamat itu dua diantaranya
kritis, yakni Afriadi (19) tahun dan Son (61).
Kepala Satkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar, Ade Edward, kepada detikcom mengatakan sepuluh orang yang berada di sekitar lubang tambang ketika ledakan terjadi mengalami luka bakar sementara lebih dua puluh penambang yang masih berada dalam lubang tambang diperkirakan tewas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan Ade, aktivitas penambangan liar oleh masyarakat Sawahlunto dan Sijunjung itu sangat tidak aman dan hanya menggunakan perlengkapan penambangan seadanya. Mereka melakukan penggalian tanpa bantuan oksigen dari luar. Selain itu, mereka juga tidak mempertimbangkan pentingnya ventilasi udara agar gas metan yang berbahaya dapat keluar.
"Rata-rata lubang tambang yang dibuat secara liar itu mencapai kedalaman 100 meter. Kejadian ini harus mendapat perhatian serius karena bukan yang pertama kali," tukas Ade.
(yon/djo)










































