"Kalau ada kecenderungan gitu (tak tegas), namanya tidak netral. Keberanian bertindak secara netral belum kuat. Kalau melihat itu, di negeri ini memang ada kecenderungan siapa yang kuat lebih menang sehingga ini berpegnaruh pada lembaga kepolisian," kata pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar saat dihubungi detikcom, Selasa (16/6/2009).
Menurut Bambang, hal ini tidak lepas dari sistem kepolisian di Indonesia yang memang masih belum sepenuhnya profesional. Orang yang lemah cenderung ditindas, sedangkan yang kuat justru dibela.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika polisi netral, imbuh Bambang, seharusnya mereka tidak segan dan ragu menindak para pengendara moge yang berbuat ulah. "Harusnya diselidiki benar-benar, meskipun kalau nggak salah pimpinan grupnya polisi. Harus ditindak tegas tanpa pandang bulu," tandas Bambang.
Untuk memperbaiki sistem kepolisian ini, Bambang mengusulkan dibentuknya sebuah lembaga di luar kepolisian yang menjadi pengawas. Lembaga ini harus memiliki kewenangan yang diamanahkan undang-undang sehingga bersifat kuat.
"Harus ada lembaga eksternal yang diberi kewenangan mengawasi, bahkan kalau perlu menginvestigasi lembaga kepolisian," kata Bambang.
(sho/nrl)











































