Juru bicara PT Arara Abadi, Nurul Huda mengungkapkan hal itu dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (15/06/2009). Menurutnya, gajah terlatih itu bernama Tongli berusia 30 tahun. Tongli ditemukan tewas di areal pengembalaannya Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Desa Rasau Kuning, Kecamatan Minas, Kabupaten Siak, di tengah konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) milik perusahaan tersebut.
"Kita sangat sedih sekali atas kematian Tongli yang sudah 15 tahun kita pelihara. Sekarang gajah kami tinggal 8 ekor setalah kematian Tongli. Dan itu pun dua ekor lagi masih anakan," kata Nurul.
Gajah ini ditemukan tewas pada Jumat (12/06/2006) lalu dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Belalai gajah dipotong lantas diambil gadingnya. Tongli selama ini merupakan gajah pemimpin di PLG milik Sinar Mas Group. Di lokasi ditemukan bangkai gajah tersebut, kata Nurul, ditemukan nenas sebagai umpan pakan gajah yang telah diberi racun.
"Jadi gajah ini sebelum dibunuh terlebih dahulu diberi pakan racun. Setelah gajahnya mati, barulah pemburu liar ini mengambil gadingnya. Kendati demikian, kami juga melakukan pemeriksaan secara internal terhadap karyawan yang bertanggungjawab dalam penangkaran gajah tersebut," kata Nurul.
Nurul menjelaskan, selama ini Tongli merupakan gajah paling cerdas di antara gajah lainnya. Tongli juga pandai menghibur warga. Satwa bongsor ini pandai memberi hormat pada setiap tamu yang datang berkunjung ke PLG PT Arara Abadi. Selain memberikan hormat serta berbagai atraksi lainnya, gajah ini juga pandai bermain bola serta berjoget poco-poco.
"Kalau kita putarkan lagu poco-poco maka Tongli dengan sendirinya akan menari maju mundur sebagaimana goyangan poco-poco. Selama ini dia adalah gajah penghibur bagi masyarakat yang ingin melihat atraksi di tempat kami," kata Nurul.
Sementara itu, Kepala Bagian Teknis, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau, Syahimin menyebut, pihaknya sudah melakukan otopsi terhadap gajah tersebut. Pihaknya juga memastikan bahwa gajah itu mati karena diracun.
"Namun kita belum dapat menyimpulkan jenis racunnya. Di lokasi juga kita temukan nenas yang dipastikan sebagai umpan yang telah diberi racun. Hasil otopsi serta nenas yang ada di lokasi kejadian sudah kira kirim ke pusat laboratorium hewan di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, untuk mengetahui jenis racunya," kata Syahimin.
Dalam kurun waktu dua bulan terakhir ini, di Riau sudah tercatat 7 ekor gajah yang tewas secara tidak wajar. Dua ekor sebelumnya merupakan gajah terlatih milik BKSDA di PLG Minas yang juga tewas diracun dan diambil gadingnya. Selanjutnya secara beruntun pula ditemukan empat ekor gajah liar anakan tewas di Kabupaten Pelalawan. Terakhir adalah Tongli gajah jinak milik PT Arara Abadi.
"Kematian gajah dalam tahun ini, merupakan angka yang cukup besar. Kita berharap, pemerintah segera menangkap para pemburu liar tersebut. Kasus kematian gajah dengan mengambil gadingnya ini jelas merupakan perbuatan para pemburu yang mencari keuntungan dengan menjual gadingnya. Maklum saja satu kilogram gading gajah bisa dijual dengan harga Rp20 juta," kata juru bicara WWF Riau, Syamsidar.
(cha/djo)











































