Maskapai low cost carrier, cukup banyak ragamnya di Eropa. Seperti di Indonesia, penerbangan murah Eropa juga bermain di rute-rute pendek. Hanya pendek di Eropa berarti lintas negara namun masih satu benua.
Sebut saja maskapai Easy Jet, Ryan Air, German Wings dan masih ada beberapa maskapai lain yang merupakan maskapai murah. Mereka menjual tiket lebih murah dari pada maskapai raksasa macam Air France, British Airways atau Luftansa. Wartawan detikcom, Fitraya Ramadhanny mencoba budget flight ini dari Berlin ke Roma dengan Easy Jet, Sabtu (6/6/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asuransi kecelakaan tidak otomatis diberikan, melainkan dijual. Itu pun penumpang boleh menolaknya kalau ingin berhemat. Risiko tentu tanggung sendiri. Bahkan fasilitas yang tidak terlalu penting pun dijual, misalnya fasilitas bebas antre check in. Penumpang pun bebas duduk dimana saja, tapi kalau ingin memesan tempat duduk ada lagi biayanya.
Maskapai semacam ini juga menghemat bahan bakar dengan mengurangi beban pesawat. Caranya, para penumpang dibatasi untuk membawa barang. Easy Jet misalnya, hanya membolehkan penumpang membawa satu tas, itu pun untuk masuk ke kabin, seperti ransel atau koper kecil. Sementara Ryan Air membolehkan penumpang membawa bagasi namun hanya 15 kg.
Selain itu, pesawat yang digunakan tidak ada yang besar. Rata-rata pesawat berukuran sedang, semacam Airbus seri A320, A319 atau A318. Nah, untuk fasilitas penerbangan pun dibuat standar. Tidak ada alat hiburan apapun di pesawat. Di Easy Jet, monitor untuk mengetahui posisi pesawat pun tidak ada.
Penumpang pun tidak diberi makanan. Pramugari membawa trolli makanan tapi untuk dijual dengan harga lebih mahal. Padahal maskapai murah di Indonesia saja masih memberikan makanan ringan gratis sekadar roti dan air mineral.
Namun urusan penerbangan, memang tidak ada tawar menawar. Saat boarding menuju pesawat, penumpang bisa melihat para teknisi sibuk memeriksa. Prosedur keselamatan di dalam pesawat juga tidak terlewatkan.
Perjalanan saya menuju Roma pun tetap nyaman. Hanya saja, rasa haus dan lapar harus ditahan dua jam sampai mendarat di Roma.
(fay/rdf)











































