Ketua Umum Peradah Nyoman Gde Agus Asrama mengatakan, sejak memasuki era reformasi, kehidupan berbangsa dan bernegara diwarnai dengan membaiknya suasana keterbukaan, dan kebebasan berekspresi. Namun, hal-hal positif tersebut tidak memberikan pengaruh yang signifikan bagi tercapainya tujuan dibentuknya NKRI.
Dikatakan dia, meningkatnya ego kelompok disinyalir menjadi kendala perbaikan kehidupan berbangsa. Parahnya, para pemimpin negara juga melibatkan diri dalam kepentingan-kepentingan sektoral sehingga semakin jauh dari nilai-nilai kenegarawanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, Peradah Indonesia menganugerahkan Peradah Award yang terdiri dari Anugerah Mpu Peradah dan Penghargaan Peradah Indonesia. Bertindak sebagai dewan juri adalah KH Salahuddin Wahid, Pdt Nathan Setiabudi dan Ngakan Putu Putra.
Dewan juri menetapkan menetapkan Ahmad Syafii Maarif dan Ibu Gedong Bagoes Oka (Alm) sebagai penerima Anugerah Mpu Peradah. Sedangkan penerima Penghargaan Peradan Indonesia ada 9 tokoh dan 1 media massa.
Dikatakan Nyoman Gde Agus Asrama, penyerahan Peradah Award akan dilakukan pada peringatan puncak 25 tahun Peradah, Minggu 14 Juni 2009, pukul 19.00 WIB, di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Berikut penerima Penghargaan Peradah Indonesia:
1. Kategori Bidang Lingkungan : Prof Dr Emil Salim
2. Kategori Bidang Ekonomi : Prof Mubyarto (Alm)
3. Kategori Bidang Kewirausahaan : Ketut Suardana Linggih
4. Kategori Bidang Hukum : Baharuddin Lopa (Alm)
5. Kategori Bidang Demokrasi : Munir Said Thalib, SH (Alm)
6. Kategori Bidang Kepemudaan : Butet Manurung
7. Kategori Bidang Pendidikan : Dr HC I Gusti Made Tamba (Alm)
8. Kategori Bidang Teknologi : Dr Ir Tjokorda Raka Sukawati (Alm)
9. Kategori Bidang Budaya : Pramoedya Ananta Toer (Alm)
10.Kategori Bidang Media plural : Majalah Tempo
(irw/irw)











































