Pentas yang mengambil penggalan kisah Mahabharata 'Jatuhnya Rahwana' iniΒ digelar di Ruang St Thomas Aquinas, Universitas Katolik (Unika) Soegiyapranata, Jl. Pawiyatan Luhur, Semarang, Jumat (12/6/2009).
Ezra Igor membuka penampilan perdana dengan bahasa Mandarin. Sebagai dalang, mahasiswa Fakultas Sastra Unika ini cukup terampil nengisi suara tokoh Rahawana. Tokoh-tokoh lain diisi dubber (orang lain).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penampilan kedua disampaikan Danang Hardiyanto. Mahasiswa Akaba Untag Semarang ini menggunakan bahasa Belanda.
Terakhir kisah "Jatuhnya Rahwana" ditampilkan dalam bahasa Inggris. Kedo Aryo Aghasa Tejandaru didapuk sebagai dalang. Pada tiap bahasa asing, di sela-selanya diselipkan bahasa Indonesia dan Jawa, tepatnya pada saat 'goro-goro'.
Sekitar 100 penonton tampak menikmati pentas wayang multi bahasa itu. Sesekali derai tawa terdengar saat sang dalang membumbui dialog dengan lelucon keseharian.
Beberapa penonton dan pemain merupakan mahasiswa asing. "Ya, saya senang bisa melihat dan mengerti seni budaya Jawa," tutur mahasiswi UGM asal Amerika, Maya.
Dekan Fakultas Sastra Unika Soegiyapranata, Heny Hartono mengatakan, pentas wayang digelar dalam rangka Dies Natalis Fak. Sastra Unika ke-11. 'Melalui pentas ini, kami berusaha menunjukkan seni dapat diapresiasi dengan beragam bahasa," katanya.
Selain Unika dan Akaba Untag, Fakultas Ilmu Budaya UGM juga tampil. Mereka menyuguhkan cerita rakyat Bengkulu, 'Ulang Ndaung'. Tim yang berjumlah 25 orang ini menggunakan bahasa Melayu Bengkulu.
(try/ken)











































