"Krisis ini meningkatkan resiko peningkatan pekerja anak perempuan. Karena masih ada budaya menganggap remeh anak perempuan dibanding anak laki-laki, sehingga perempuan lebih mudah untuk dipekerjakan oleh keluarganya dibanding sekolah," ujar Direktur International Labour Organization (ILO) Office Jakarta Alan Boulton.
Hal itu dikatakan Alan saat jumpa pers di kantornya, Gedung Menara Thamrin,
Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jumlah pekerja anak perempuan dalam pekerjaan rumah tangga terdapat laporan
mengenai tindakan kekerasan dan perlakuan buruk terhadap pekerja rumah tangga anak," tambahnya.
Data sementara yang dihimpun ILO, sebanyak 100 juta anak perempuan secara global terlibat dalam pekerja anak. Ditambah dengan hampir 2/3 dari populasi buta-huruf di dunia adalah perempuan.
"Oleh karenanya kami ingin mengingatkan agar fokus perhatian Hari Dunia menentang pekerja anak pada tahun ini kepada penghapusan pekerja anak perempuan," ujar Kepala Penasihat Teknis Program Pekerja Anak ILO.
Rencananya, ILO bersama LSM dan mitra sosial lainnya akan menyelenggarakan aksi jalan bersama untuk mengkampanyekan isu bertajuk 'Give Girls a Change : Tackling Child Labour, A Key To The Future'. Aksi ini akan diikuti 1.500 orang terdiri dari mantan pekerja anak.
Aksi ini akan digelar di Plaza Selatan Gelora Bung Karno, Jakarta pada Minggu, 21 Juni 2009.
(ape/nwk)











































