Dalam rekonstruksi itu, selain Susrama, polisi juga menghadirkan 8 tersangka lainnya. Mereka antara lain Nyoman Wiratyana, Dewa Suwamba, Gede Wardana, Ida Bagus Made Atyana, dan Wayan Suwekita.
Digambarkan, para pelaku membawa korban Prabangsa ke rumah Susrama setelah menjemputnya dari suatu tempat. Setibanya di rumah itu, korban langsung dianiaya dengan tangan oleh para tersangka. Korban selanjutnya dibawa ke halaman belakang rumah Susrama yang cukup luas. Tangan korban dilipat ke belakang oleh tersangka Gede Wardana.
Di belakang rumah, korban kembali dianiaya terlebih dahulu para tersangka, salah satunya Wiratyana, di depan Susrama. Wiratyana juga melontarkan kata-kata "habisi dia...habisi dia". Tak lama, Susrama ikut memukul korban dengan tangan kosong dan balok kayu.
"Kamu meras, mau diekspos di koran ya," ujar Wirayatna lagi.
Mendapat penganiayaan seperti itu, korban sempat mencoba melarikan diri. Namun berhasil ditangkap lagi oleh para tersangka. Korban kemudian digelandang ke samping rumah. Di tempat ini korban kembali dipukuli dengan tangan dan balok kayu sampai terjatuh. Saat terjatuh, kaki korban dihantam balok kayu oleh tersangka Gede Wardana.
Akibat penganiayaan berat yang dialaminya, korban pun akhirnya tewas. Para tersangka lalu membuangnya ke laut. Sedangkan darah korban di rumah itu kemudian dibersihkan dan ditimbun pasir.
Saat proses rekonstruksi berlangsung, polisi sempat bertanya kepada Susrama. "Coba ingat-ingat, kamu berbicara apa?" tanya polisi.
"Saya tidak berbicara apa-apa, karena memang saya tidak di sini," kilah Susrama santai. Bahkan di bibirnya sempat tersungging senyuman.
Proses rekonstruksi yang dipimpin Kasat I Ditreskrim Polda Bali AKBP Ahmad Nur Wakhid ini menyedot perhatian ribuan warga setempat. Mereka datang berbondong-bondong dan berusaha dengan segala cara menyaksikan jalannya rekonstruksi. Tak sedikit warga yang naik ke atap rumah atau memanjat pohon.
Prabangsa ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan mengambang di Pantai Bias Tugel, Karangasem, Senin 16 Februari 2009 lalu. Seluruh tubuh korban dipenuhi luka-luka. Hasil otopsi RSUP Sanglah Denpasar menyebutkan, kepala korban pecah, bola mata hilang, lidah menjulur, telinga kiri robek, dada lebam dan ada bekas jeratan di bagian leher.
Belakangan terungkap, pembunuhan Prabangsa didalangi oleh Nyoman Susrama. Motif pembunuhan diduga karena korban menulis dugaan korupsi yang dilakukan pejabat kabupaten Bangli.
(gds/djo)










































