sidang lanjutan pada 17-23 Juni 2009 mendatang.
"Ada dua hal yang akan dilakukan Komnas HAM. Pertama, kita akan hadiri sidang
lanjutan 17-23 Juni mendatang, karena saya sendiri ada acara di Singapura, jadi bisa mengikuti agenda sidang itu untuk memastikan keluarga mendapatkan keadilan," kata Komisioner Komnas HAM Nur Kholis.
Hal itu disampaikan Nur Kholis dalam jumpa pers di Komnas HAM, Jl Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (9/6/2009).
Kedua, lanjut Nur Kholis, pihaknya juga akan menjajaki kerjasama dan koordinasi dengan NGO atau LSM di Singapura. Pasalnya, di Singapura sampai saat ini belum ada semacam lembaga Komnas HAM.
"Maka pilihan kita akan koordinasi dengan NGO-NGO yang bukan berbasis di Singapura, tapi seperti Bangkok dan lainnya untuk memonitoring kasus ini. Kita juga koordinasi dengan KBRI di Singapura," jelasnya.
Menurutnya, Komnas HAM akan terus melakukan pemantauan atas proses peradilan agar keluarga David mendapatkan persidangan yang adil dan jujur. Oleh sebab itu, Komnas HAM sendiri telah hadir pada persidangan Coroner Court di Sub Court Singapura itu pada 20 Mei 2009 lalu.
"Bahkan bersama keluarga, saya juga meninjau lokasi kejadian," ungkapnya lagi.
Komnas HAM sendiri akan memonitoring terhadap sejumlah dokumen-dokumen hukum yang ada. Karena, ada perbedaan yurisdiksi penanganan hukum di Indonesia dan Singapura.
"Kita akan kaji ini lagi," imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Tim Verifikasi Kasus David, Iwan Piliang menambahkan dari
temuan-temuan fakta di lapangan di tambah bukti foto dan hasil forensik serta
otopsi yang ada membuktikan kuat dugaan kematian David bukan bunuh diri, tapi dibunuh.
Iwan juga menyayangkan sikap kepolisian Singapura dan NTU yang menyembunyikan
bukti laptop dan hardisk yang berisi temuan teknologi kamera tiga dimensi untuk surveilance (alat pengintaian) bagi militer itu. Dia juga mengritisi sikap Interpol, Deplu, Depkumham yang terkesan membiarkan kasus ini hanya ditangani warganya sendiri.
"Ini beda dengan kasus Manohara. Padahal ini kasus lebih biadab dan keji lagi.
Manohara selamat, bebas dan senang. Tapi ada mahasiswa Indonesia yang jenius,
tapi diperlakukan seperti itu, bahkan jenazahnya pun sampai difitnah bunuh
diri dan dipermalukan bangsa yang kecil itu. Kenapa negara diam saja?" ujar Iwan emosional.
(zal/nwk)











































