"Ini sudah kesekian kalinya, dan menurut saya bukan soal anggaran, karena memang terbatas. Tetapi masalahnya pada perawatan," ujar Agung saat ditemui wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Senin (8/6/2009).
Agung menuturkan, insiden jatuhnya pesawat militer secara berturut-turut dalam waktu yang berdekatan ini harusnya menjadi introspeksi TNI terhadap kendaraan militernya.
Menurutnya ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama yakni standar perawatan. "Karena pesawat itu harus ada standar perawatannya, seperti life timenya," katanya.
Berikutnya adalah kualitas SDM militer yang mengoperasikan alat-alat militer. "Karena mungkin saja human error, artinya SDM-nya harus qualified," jelasnya.
Meski menyarankan untuk memperhatikan dua hal itu, Agung mengakui anggaran militer Indonesia memang sangat minim. Dijelaskan Agung, untuk anggaran militer tahun 2009 saja, hanya Rp 35 triliun pertahunnya. Jumlah itu pun masih harus dibagi lagi untuk tiga angkatan yang ada. Belum lagi untuk Departemen Pertahanan.
"Karena itu DPR mendorong untuk ada peningkatan dari waktu ke waktu," imbuh Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini.
Dia meminta TNI lebih memperhatikan alat utama sistem pertahanan (alutsista)Β agar tidak terjadi lagi kecelakaan beruntun jatuhnya pesawat militer seperti yang terjadi ini.
"Kalau barang mungkin hancur saja. Tapi ini menyangkut nyawa kolonel, mayor, kapten, dan lainnya yang disayangkan kalau terjadi," tandasnya.
(Rez/ndr)











































