"Ada yang lebih penting dari sekadar kontroversi. Beliau menyajikan narasi lain, di luar narasi pemerintah," kata Baskara di rumah duka, Jl. Mahesa Raya No 1 Pedurungan, Semarang, Kamis (4/6/2009).
Penulis buku 'Mencari Supriyadi' ini menjelaskan, pengakuan almarhum membuat setiap orang harus mengkonstruk ulang narasi kesejarahan yang saat ini didominasi pemerintah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama, almarhum tidak menonjolkan diri sendiri tapi memaparkan narasi sejarah, kedua almarhum tidak terkesan klenik (magic), tapi rasional.
"Terakhir, almarhum tak hanya mengetahui sejarah PETA, tapi juga bisa menghubungkan PETA dengan sejarah nasional dan internasional," paparnya.
Almarhum dimakamkan sekitar pukul 14.20 WIB di TPU Pedurungan, Semarang. Dia meninggalkan 4 anak, 8 cucu, dan 6 cicit.
(try/djo)











































