Di samping dinding triplek, seorang ibu muda sedang mandi di kamar mandi yang sedikit terbuka. Di sisinya, sebuah kuali sedang mendidihkan air panas buat minum kopi.
"Di sini semua pemulung," ujar Warti, 26, kepada detikcom, di rumahnya, Kamis, (4/6/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tepi jalan raya, sebuah apartemen menengah dan apartemen kelas atas siap huni berdiri. Usai menembus jalan, sebuah gang tak nampak karena berukuran sangat kecil, hanya selebar 50 cm. Tepat di belakang SMP 250, kawasan padat penduduk ini terhampar seluas 3 kali lapangan bola.
"Sehari mulung paling tinggi dapat Rp 30 ribu. Biasanya Rp 20 ribu," tambah Bu Ijah, 65, yang mulung plastik bekas.
Hasil pulungan dikumpulkan juga di kompleks tersebut. Dari kardus bekas, air mineral bekas, hingga besi bekas yang harus dipotong-potong lagi.
"Semenjak larangan pemulung masuk komplek, kami makin susah. Kami ngandelin nyari di sekitar Pasar Blok A. Itupun harus bersaing dengan pembeli barang bekas yang
menggunakan mobil," tambahnya.
Di gubuk-gubuk sempit ini, hanya televisi-televisi yang menjadi sarana hiburan. Puluhan antena pun menjulang ke angkasa. "Kalau hujan, air pasti selalu naik, banjir. Yang kami takutkan kalau terjadi kebakaran. Bisa-bisa habis semua," ujar Bambang.
(asp/aan)











































