Saat itu, Rocky sedang menceritakan pengalaman dia saat menonton acara televisi. Di situ ditayangkan seorang anggota Dewan sedang membongkar isi lemarinya.
Si anggota Dewan dengan bangga mempertontonkan koleksi jasnya yang bermerek papan atas. Salah satunya adalah Hugo Boss.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sayang mereka hanya mengenal Hugo Boss bukan Hugo Grotius, padahal saya sebagai rakyat, istilahnya mempercayakan amanat, maaf Pak Gayus, istilahnya kacung...," ujar Rocky di Kafe Mario's Place, Cikini, Jakarta, Rabu (3/6/2009).
Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya omongannya, Gayus sudah memotong Rocky.
"Saya tidak terima apabila kami (anggota dewan) dibilang kacung, seharusnya anda tahu apa arti kacung yang anda ungkapkan, itu saja anda sudah menyampaikan secara tidak santun," ujar Gayus marah.
Acara pun berubah menjadi debat di antara mereka berdua. Todung Mulya Lubis dan Teten Masduki yang hadir hanya bisa diam melihat tingkah laku mereka berdua.
"Bagaimana seorang wakil memarahi yang memilihnya," jelas Rocky.
"Saya bukan wakil anda, anda dari daerah mana," ketus Gayus.
"I'm citizen," jawab Rocky.
Namun, 'perkelahian' ini tidak berlangsung lama karena moderator acara langsung menengahi.
Di akhir acara, Rocky meminta maaf seraya menjelaskan maksud perkataannya. Menurut Rocky, dalam filsafat Yunani, anggota Dewan sebenarnya adalah budak dari rakyat.
"Mereka disuruh untuk pergi ke parlemen mewakili kami, itu bukanlah arti secara sebenarnya," jelas Rocky.
Namun penjelasan itu tetap tidak bisa diterima Gayus. Dia tetap emosi karena menilai sebagai seorang dosen, Rocky tidak pantas berbicara seperti itu.
"Apa pantas anda mengucapkan kalimat kotor di depan kelas, saya juga dosen di UI tapi tidak pernah berbicara seperti itu," jelas Gayus yang terus tidak bisa menutup kemarahannya.
(mok/anw)











































