Demikian inti dari hasil-hasil Interfaith Dialogue selama dua hari antara Indonesia dan Rusia di Moskow (1-2/6/2009), yang dituangkan kedua pihak dalam 21 Butir Rangkuman.
Butir-butir tersebut dirumuskan oleh kedua belah pihak dalam suatu pertemuan terbatas dan memakan waktu kurang dari 2 jam. "Semua berjalan lancar dan nyaris tidak ada silang pendapat," tutur Korfungsi Pensosbud M. Aji Surya kepada detikcom siang ini (3/6/2009) Waktu Eropa Tengah.
Setelah selesai dirumuskan langsung dilanjutkan dengan konferensi pers di pusat kantor berita Rusia Ria Novosty. “Semua ini menunjukkan bahwa Indonesia dan Rusia memiliki banyak kesamaan pandangan,” tegas Ignas Kleden yang memimpin rapat perumusan hasil dialog.
Model untuk Dunia
Dalam 21 Butir Rangkuman itu antara lain disebutkan bahwa beragam pengalaman dan pelajaran di kedua negara sangat mungkin dijadikan model bagi dunia internasional tentang koeksistensi damai.
Sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim, ternyata Indonesia tidak menjadi negara agama ataupun sekuler. Di bawah Pancasila, semua komponen masyarakat dapat hidup berdampingan secara damai.
Di lain pihak, gereja Ortodoks di Rusia juga mengayomi pemeluk agama lain seperti Islam, Hindu dan Budha.
Dalam mengelola prularisme, baik Indonesia maupun Rusia akan lebih mengembangkan kembali kesadaran dan budaya toleransi dan saling memahami.
Pihak mayoritas harus memberikan ruang yang cukup bagi aktivitas minoritas dan keduanya juga harus bersama-sama menciptakan keharmonisan hidup.
“Pemahaman atas kepercayaan dan agama pihak lain pada dasarnya akan meningkatkan rasa iman seseorang,” ujar Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri Andri Hadi.
Tanggung Jawab Pers
Di sisi lain, pers sangat diharapkan perannya dalam membangun dan menciptakan keharmonisan bermasyarakat.
Selain itu, sangat disadari bahwa pers memiliki peran tidak kecil dalam masyarakat demokrasi. Karenanya, kebebasan pers harus terus didorong dan dihormati semua pihak. Meskipun begitu, pers tetap diharapkan menjadi penjaga gawang yang baik bagi menjamurnya toleransi dan suburnya pluralitas.
“Teman-teman wartawan harus senantiasa di jalur kode etik jurnalistik, aturan yang berlaku serta menjunjung nilai-nilai agama dan norma lainnya yang berlaku di masyarakat,” tambah Andri.
Kedua belah pihak memandang bahwa interfaith dialogue kali ini sangat penting dan bermanfaat. Oleh sebab itu diharapkan akan dilaksanakan kembali di waktu-waktu mendatang dengan tema-tema yang lebih menggigit serta ditindaklanjuti dengan aksi yang kongkrit.
“Hasil pertemuan brilian ini tidak bisa disia-siakan,” kata Venjamin Popov, mantan Dubes Keliling Rusia untuk dunia Islam.
(es/es)











































