Budayawan Riau, Al Azhar mengungkapkan hal itu dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (2/06/2009) di Pekanbaru. Menurut Bang Al, begitu sapaan akrabnya, persoalan pemboyongan naskah kuno Melayu ini sudah berlangsung lama yang dilakukan warga negara Malaysia. Naskah budaya Melayu yang kini justru menjadi milik negara Malaysia itu seperti syair, hikayat, dan puisi yang masih bertuliskan Arab Melayu. Begitu juga naskah kuno Al Quran tulisan tangan yang dilakukan oleh para pujangga di semenanjung pantai timur Sumatera.
"Saat ini naskah kuno yang sudah berpindah tangan itu merupakan cagar budaya milik masyarakat Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Lepasnya dokumen sejarah soal cagar budaya asli milik bangsa Indonesia ini tidak terlepas dari sikap pemerintah kita yang kurang peduli dengan nilai-nilai sejarah itu sendiri," kata Bang Al yang juga dosen Universitas Islam Riau (UIR) itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah masyarakat yang memiliki dokumen sejarah seperti tulisan Hikayat yang masih bertuliskan Melayu Arab ditawar bangsa Malaysia dengan harga minimal Rp 300 ringgit atau setara dengan Rp 1 juta. Sementara satu sisi, pihak pustaka Pemprov Kepri sendiri hanya menghargai satu naskah paling mahal hanya Rp200 ribu.
"Ini persoalan serius yang sedang kita hadapi soal dokumen budaya yang kita miliki saat ini. Sampai sekarang bangsa Malaysia terus memburu naskah Melayu kono milik bangsa kita," kata Bang Al.
"Mereka (Malaysia) sangat peduli untuk pengumpulan bukti soal sejarah peradaban Melayu. Dengan demikian, kelak Malaysia bakal menjadi tempat belajar dari seluruh dunia soal bangsa Melayu. Kita selaku pemilik naskah yang sesungguhnya kelak akan belajar ke Malaysia karena memang mereka yang memiliki dokumen itu," sambung pria yang lahir di Kabupaten Rokan Hulu, Riau 47 tahun silam itu.
(cha/asy)











































