Demikian simpul-simpul yang mengemuka dalam pembukaan Interfaith Dialogue antara Indonesia dan Rusia di Wisma Duta Moskow pada pagi ini, Senin (1/6/2009) waktu setempat.
Dialog dibuka oleh Dubes RI untuk Rusia dan Belarusia Hamid Awaludin, Direktur Pusat Studi Arab dan Islam Moskow Prof. Dr. V. Naumkin serta dihadiri para tokoh agama, masyarakat dan pejabat pemerintah kedua belah pihak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dubes Hamid dalam sambutan pembukaannya mengatakan bahwa inilah waktu tepat untuk saling tukar pengalaman dalam menjaga pluralisme. Kedua bangsa memiliki sederet pengalaman panjang dalam mendorong keharmonisan bermasyarakat.
"Berdasarkan pengalaman Indonesia selama ini, maka banyak pertikaian antarumat beragama disulut oleh misunderstanding yang kemudian digarami dengan keyakinan," papar Hamid, seperti disampaikan Kordungsi Pensosbud M. Aji Surya kepada detikcom.
Karena itu Hamid berpesan, “Tidak waktunya lagi masyarakat menggunakan terminologi “saya” atau “dia”. Yang harus dikedepankan adalah terminologi “kita”.
"Selain itu, damai bukan hanya diartikan tidak adanya pertikaian, tetapi harus dimaknai kemakmuran dan terjangkaunya pendidikan bagi semua," tandas Hamid.
Pancasila
Direktur Pusat Studi Arab dan Islam Moskow, Prof. Dr. V. Naumkin mengemukakan bahwa momentum bersama Indonesia-Rusia kali ini pasti akan bergaung di mana-mana. Tidak hanya menjadi bahan perbincangan di Rusia dan Indonesia, karena keduanya adalah bangsa yang besar dan memiliki banyak kesamaan.
"Selain itu saya mencatat bahwa Pancasila merupakan suatu ideologi Indonesia yang memiliki makna besar dalam menyatukan keanekaragaman yang ada,” ujar Naumkin.
Menurut Naumkin, baik Indonesia dan Rusia akan dapat mencapai kejayaan manakala dapat memberikan ruang komunikasi yang baik antara pemeluk agama Islam dan Kristen. Hanya melalui dialog, keharmonisan bermasyarakat dapat dijaga.
Diakuinya, bahwa Rusia hingga saat ini tidak mengenal dikotomi Barat dan Timur, sehingga bersama Indonesia dapat berperan dalam mendorong kehidupan internasional yang lebih baik di masa datang.
Toleran
Sementara itu Dirjen HPI Deplu Andri Hadi menekankan bahwa apa yang telah dan senantiasa dilakukan Indonesia untuk menciptakan suasana damai antarpemeluk agama adalah mendorong interfaith dan intrafaith dialogue.
“Yang menjadi salah satu modal kita adalah umat Islam Indonesia sangat toleran dan terbuka bagi berkembangnya pluralisme dan demokrasi,” cetus Andri.
Sedangkan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Laprov dalam pidato yang dibacakan wakilnya, menyatakan bahwa kegiatan yang baru pertama kali diadakan di Rusia ini dipastikan akan dapat mendekatkan kedua bangsa dan meningkatkan understanding antara keduanya.
Sebagai penutup, Ketua Dewan Mufti Rusia, Ravil Gaynutdin, mengamini apa yang telah disampaikan pembicara sebelumnya dengan menyitir ayat Quran yang menyebutkan bahwa umat manusia diciptakan berbeda beda dan berbangsa-bangsa dengan tujuan untuk mendorong perdamaian melalui dialog.
(es/es)











































