Jakarta Selatan. Kawasan tumpukan sampah yang seluas lapangan bola itu pun
menjadi saksi Madirah (36), tukang sortir sampah berjuang melawan himpitan
ekonomi selama hidup hingga akhir hayatnya.
"Tadi pagi dia (Madirah) masih ngopi dan ngobrol bersama tetangga," kata Sulastri (32) tetangga Madirah kepada detikcom di tempat pembuangan sampah (TPS) Gandaria, Jakarta Selatan, Senin (1/6/2009).
Derita Madirah yang asli Cirebon ini tak melulu masalah ekonomi. Di rumah lapak seluas 3 x 3 meter ini dia juga harus menjadi ibu bagi kedua anaknya, Yanto (10) dan Ian (8) yang terus meneteskan air mata.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibu kedua anak tersebut, Satiah menghembuskan napas di Arab Saudi, 10 tahun lalu. Kini Yanto dan Ian sekolah di SD Nurul Hidayah, Jalan Haji Jian, Cipete, Jakarta Selatan, kelas 4 dan kelas 3 SD.
"Tidak tahu nantinya bagaimana," ujar Yanto sambil menerawang kosong.
Tak jauh beda dengan Ian. Mengenakan baju koko dan kopiah putih, dia terus
meneteskan air mata. Di bawah atap rumah petak yang pengap, belasan tetangga berkumpul mengerubung. Beberapa lainnya membaca surat Yaasin. Sementara yang lain mencari truk guna membawa jenazah pulang ke Cirebon.
"Mungkin ikut pulang ke Cirebon," ujar Ian menahan tangis.
(asp/nwk)










































