Kebebasan Pers dan Pers Yang Bertanggung Jawab?

Interfaith Dialogue RI-Russia

Kebebasan Pers dan Pers Yang Bertanggung Jawab?

- detikNews
Minggu, 31 Mei 2009 13:13 WIB
Kebebasan Pers dan Pers Yang Bertanggung Jawab?
Moskow - Peran media sangat besar dalam mengembangkan kehidupan bermasyarakat di manapun juga. Membesarkan media dengan cara tidak tepat pada akhirnya dapat merugikan pembangunan yang menjadi dambaan rakyat.

Demikian koordinator pelaksana kegiatan Interfaith Dialogue RI-Rusia Berlian Napitupulu, seperti disampaikan Pensosbud KBRI Moskow M. Aji Surya kepada detikcom hari ini, Minggu (31/5/2009).

Atas pertimbangan itu, tema kebebasan pers dalam pembangunan nasional akan didiskusikan Indonesia dan Rusia mulai besok (1-2/6/2009). Meskipun memiliki latar belakang relatif berbeda, para insan pers dari kedua belah pihak akan mencoba mengemukakan isu kebebasan pers dalam perspektif masing-masing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wartawan senior dari Tempo, Kompas, Republika dan Sinar Harapan akan mewakili kalangan media Indonesia. Sedangkan dari Rusia akan hadir antara lain wakil dari asosiasi berita Ria Novosty, Itartas, dan Dewan Mufti Rusia.

Indonesia dan Rusia merupakan negara dengan penduduk lebih dari 150 juta jiwa dan memiliki tingkat multietnis dan agama yang kompleks. Karena itu pengembangan masyarakat melalui peran media massa terus berkembang dari waktu ke waktu.

Sama seperti Indonesia yang baru mengenyam demokrasi luas pada awal 1990-an, kini di kedua negara tumbuh ratusan usaha media masa baik cetak maupun elektronik.

Domain Pemerintah?

Dubes RI untuk Rusia dan Belarusia Hamid Awaludin menggarisbawahi bahwa diskursus tentang kebebasan pers tidak hanya menjadi domain kalangan pemerintah, tetapi juga insan pers dan masyarakat secara umum.

β€œDi Amerika sendiri, setelah munculnya kebebasan pers kemudian berkembang teori baru mengenai pers yang bertanggungjawab,” ujar Hamid.

Diakui, bahwa garis pembatas antara kebebasan pers dan pers yang bertanggungjawab menjadi sangat tipis dan multiinterpretable. Setiap negara dan masyarakat memiliki pemahaman yang berbeda meski esensinya tidak jauh berbeda. Demikian pula yang terjadi dalam perkembangan pers di Indonesia dan Rusia.

Melalui dialog langsung dan terbuka, maka masyarakat pers RI dan Rusia dapat mengartikulasikan aneka perspektif yang mereka miliki.

Sementara itu para tokoh di bidang lain seperti Prof. Dr. Frans Magnis Suseno dan Prof. Dr. Azzumardi Azra akan mencermati dan terlibat dalam pembahasan.

Meskipun mungkin tidak banyak titik temu, dialog akan memberikan bekal yang baik bagi masa depan pengembangan pers di kedua belah pihak, sebab seperti kata orang Jerman: Masa Depan Hanya (Bisa) Dibangun Melalui Komunikasi (Dialog).
(es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads