"Ilmu pengetahuan sendiri tidak bisa meramalkan perekonomian akan pasti baik. Itu menandakan, kita sebagai ilmuwan, pejabat pemerintah dan pelaku usaha jangan terpukau dengan teori-teori yang bagus secara akademis," kata Juwono Sudarsono.
Hal itu dikatakan dia saat membuka seminar bertema Ketahanan Nirmiliter dan Kerjsama dengan Britania Raya di Gedung Departemen Pertahanan, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (26/5/2009).
Menurut Juwono, semua ahli ekonomi di negara maju tak bisa meramalkan apa yang terjadi dalam krisis perbankan selama satu tahun terakhir. Dia menyatakan, ada sesuatu lebih dari kerangka ilmu yang tidak bisa diramalkan.
"Harusnya disadari para ahli, bahwa dinamika yang tidak bisa diramalkan secara rasional," jelasnya.
Lantas Juwono pun memberikan contoh kasus, saat perekonomian dunia barat ditantang oleh kapitalisme Jepang pada tahun 1985. Ketika itu banyak sekali perusahan Eropa yang berada di Jepang merasa tersaingi dengan kemampuan pasar dan negara Jepang dan Korea Selatan.
"Untuk menembus keunggulan kompetitif di pasar-pasar eropa barat. Terciptalah strategi Jepang membuat mobil di eropa," tuturnya.
Keberanian Jepang dan Korsel di bidang ekonomi ini, lanjut Juwono, berakibat jatuhnya sejumlah produk perusahaan otomotif raksasa di Amerika Serikat.
"Itu salah satu aspek yang harus dipelajari dan saat ini atau dikenal dengan neolib yang sekarang diperdebatkan para politisi," imbuhnya.
(zal/irw)











































