Shofwan: Kita Harus Brain Gain, Bukan Brain Drain

Pemenang The 39th St Gallen Symposium

Shofwan: Kita Harus Brain Gain, Bukan Brain Drain

- detikNews
Minggu, 24 Mei 2009 08:50 WIB
 Shofwan: Kita Harus Brain Gain, Bukan Brain Drain
Jakarta - Shofwan Al-Banna Choiruzzad, mahasiswa Indonesia yang memenangkan The 39th St Gallen Symposium, prihatin dengan sistem pendidikan Indonesia yang belum bisa mengoptimalkan potensi anak bangsa.

Ia berharap pemerintah Indonesia ke depan bisa me-manage pendidikan dengan baik, sehingga anak bangsa tidak hanya menjadi 'saluran' tetapi menjadi 'keuntungan' bagi Indonesia.

"Seperti Cina atau India yang secara sistematis mengoptimalkan orang-orang terbaiknya, sehingga bisa 'Brain Gain' bukan 'Brain Drain'," kata Shofwan saat mengobrol (chat) dengan detikcom, Minggu (24/5/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Shofwan, yang kini mengambil program master di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Jepang ini, masalah yang terpenting bagi pendidikan Indonesia adalah visi ke depan. Dengan visi yang kuat, kata dia, kita punya petunjuk yang jelas ke mana tujuan pendidikan Indonesia akan dicapai.

"Visi kita (masih) lemah untuk masa depan," pungkasnya.

Pada The 39th St Gallen Symposium, yang berlangsung 7–9 May 2009 di Swiss, Shofwan menjadi pemenangan pertama dari tiga besar siswa yang layak tampil menyampaikan gagasannya di depan forum dunia.

Dengan karya tulis berjudul 'Boundaries as Bridges: A Reflection for Transnational Business Actors', ia mengungguli Jason George, mahasiswa prorgam master dari Harvard University (peringkat 2) dan Aris Trantidis, mahasiswa program doktoral dari London School of Economics (peringkat 3).

Di kota tua St Gallen itu, 600 pemimpin bisnis dan politik dari seluruh dunia berkumpul untuk berdialog dengan 200 pemimpin muda mengenai krisis global hari ini.

(lrn/lrn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads