Ia berharap pemerintah Indonesia ke depan bisa me-manage pendidikan dengan baik, sehingga anak bangsa tidak hanya menjadi 'saluran' tetapi menjadi 'keuntungan' bagi Indonesia.
"Seperti Cina atau India yang secara sistematis mengoptimalkan orang-orang terbaiknya, sehingga bisa 'Brain Gain' bukan 'Brain Drain'," kata Shofwan saat mengobrol (chat) dengan detikcom, Minggu (24/5/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Visi kita (masih) lemah untuk masa depan," pungkasnya.
Pada The 39th St Gallen Symposium, yang berlangsung 7β9 May 2009 di Swiss, Shofwan menjadi pemenangan pertama dari tiga besar siswa yang layak tampil menyampaikan gagasannya di depan forum dunia.
Dengan karya tulis berjudul 'Boundaries as Bridges: A Reflection for Transnational Business Actors', ia mengungguli Jason George, mahasiswa prorgam master dari Harvard University (peringkat 2) dan Aris Trantidis, mahasiswa program doktoral dari London School of Economics (peringkat 3).
Di kota tua St Gallen itu, 600 pemimpin bisnis dan politik dari seluruh dunia berkumpul untuk berdialog dengan 200 pemimpin muda mengenai krisis global hari ini.
(lrn/lrn)











































