"Indonesia memperjuangkan agar WHO lebih bijak dalam menentukan pandemic alert. Jangan hanya berdasarkan transmisibility (penyebaran), tetapi juga dipertimbangkan angka kematiannya, pantas tidak untuk menakut-nakuti dunia," ujar Menkes Siti Fadillah Supari.
Hal itu dia sampaikan dalam pesan singkat kepada wartawan yang diterima Selasa (19/5/2009) malam, di sela-sela ajang World Health Assembly (WHA) di Jenewa, Swiss. WHA adalah sidang tertinggi WHO.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang telah menyebar luas ke seantero benua, tetapi angka kematiannya sangat rendah hanya kurang dari 2 persen, lebih rendah dari kematian seasonal flu yang telah melanda dunia tapi dianggap tidak berbahaya," imbuhnya.
Di sisi lain, penderitaan Meksiko karena pandemic alert yang ditetapkan WHO itu menguntungkan kaum industrialis.
"Disamping itu, betapa bertambah untungnya kaum industrialis yang memproduksi vaksin, obat-obatan dan masker, diagnostic tools, dll. Mereka menuai keuntungan dengan adanya status pandemic alert yang dicanangkan WHO," tukasnya.
WHO, imbuhnya, juga harus lebih transparan tentang jenis dan sifat virus penyakit yang menyebabkan awas pandemi, bagaimana virus itu bisa bermutasi sehingga menyebabkan pandemi, agar tidak menimbulkan banyak spekulasi.
"Ketentuan WHO dalam pandemi menyangkut nasib suatu bangsa," pungkas dia.
(nwk/mok)











































