Minta Bantuan Obama, Ratusan Imigran Tamil Datangi Gedung Putih

Minta Bantuan Obama, Ratusan Imigran Tamil Datangi Gedung Putih

- detikNews
Selasa, 19 Mei 2009 10:50 WIB
Minta Bantuan Obama, Ratusan Imigran Tamil Datangi Gedung Putih
Washington - Ratusan imigran etnis Tamil mendatangi Gedung Putih di Washington, AS. Mereka meminta Presiden AS Barack Obama untuk menekan pemerintah Sri Lanka agar mengakhiri "pemusnahan etnis" di negeri itu.

"Presiden Obama, Anda satu-satunya harapan kami!" seru massa. Kebanyakan pendemo membawa plakat bergambar pemimpin kelompok Liberation Tigers of Tamil Eelam (LTTE) Velupillai Prabhakaran, yang tewas diserang pasukan Sri Lanka pada Senin, 18 Mei kemarin.

Aksi demo ini terjadi setelah pemerintah Sri Lanka mengumumkan berakhirnya peperangan selama beberapa dekade dengan gerilyawan Macan Tamil. Konflik tersebut berakhir dengan penumpasan yang dilakukan pasukan Sri Lanka terhadap sisa-sisa gerilyawan Tamil dan tewasnya Prabhakaran dan wakil-wakilnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Massa juga mengusung poster-poster bergambar wanita dan anak-anak yang tampaknya terluka dalam serangan militer Sri Lanka. Para pendemo memprotes pembantaian warga sipil yang dilakukan tentara Sri Lanka serta sikap pemerintah Sri Lanka yang melarang badan-badan kemanusiaan atau wartawan masuk ke zona perang.

Senthan Nada, salah seorang imigran Tamil yang tinggal di Toronto, Kanada, mendesak Obama untuk membantu menghentikan "pemusnahan etnis" yang menurut para demonstran masih terus berlangsung di Sri Lanka meski peperangan dengan Macan Tamil telah berakhir.

"Perang telahir berakhir, namun pembersihan etnis dan pembunuhan masih terus terjadi... dan dunia tahu itu," seru Nada seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (19/5/2009).

"Angkatan bersenjata dan pemerintah Sri Lanka dengan sengaja membunuhi warga sipil Tamil di zona perang," cetus Nada.

"Mereka menyiksa rakyat," kata pendemo lainnya, Sabanatha Mohan dari Toronto. "Pemerintah Sri Lanka diam-diam melakukan pemusnahan etnis. Mengapa tak ada yang bisa menghentikannya? Hanya Presiden Amerika yang bisa," pungkasnya.

(ita/iy)


Berita Terkait