"Memang sudah mengumpulkan sms-sms, yang pada saat Pak Antasari ditahan juga sudah ada sms pada ibu, dan ini menjadi alat bukti juga kan nantinya kepada penyidik, terus menjadi petunjuk," ujar Juniver Girsang, pengacara Antasari di Mapolda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis (14/5/2009).
Juniver mengatakan, teror tersebut masuk ke telepon genggam Ida setelah Antasari ditahan. Isi teror tersebut, kata Juniver, sangat menyakitkan Ida.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, siapa yang mengirim teror tersebut, Ida tidak mengetahuinya. Teror-teror semacam itu, lanjut Juniver, Ida sudah sering mengalaminya.
"Ibu tetap tabah karena beliau menyatakan teror seperti ini, ia sudah biasa. Dia tidak menjadi risau karena beliau sejak dulu mendampingi Pak Antasari, teror seperti ini sudah sering dialami," lanjutnya.
Saman halnya dengan ancaman yang ditujukan kepada Antasari, teror tersebut kemudian, tambah Juniver, pernah disampaikan ke pihak penyidik. Hal itu, menurutnya, justru akan menjadi pembelaan bagi Antasari.
Menurutnya pula, sangat tidak logis jika Antasari disebut sebagai intelectual dader. Padahal, Antasari sendiri menyampaikan teror tersebut ke Kapolri.
"Karena bagaimana mungkin kalau ada niat kemudian kita minta perlindungan hukum hal ini sudah dituangkan sebelumnya dalam BAP secara runut tapi hanya minta sampaikan saja," pungkasnya.
(mei/ndr)











































