Puluhan Granat dan Mortir Ditemukan di Bone, Diduga Milik Pasukan DI/TII

Puluhan Granat dan Mortir Ditemukan di Bone, Diduga Milik Pasukan DI/TII

- detikNews
Selasa, 12 Mei 2009 12:34 WIB
Puluhan Granat dan Mortir Ditemukan di Bone, Diduga Milik Pasukan DI/TII
Makassar - Puluhan granat dan mortir aktif serta ribuan proyektil ditemukan di sebuah sungai kering di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Benda-benda berbahaya itu diduga peninggalan pasukan DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar.

Informasi yang dihimpun detikcom, jumlah total bahan peledak yang ditemukan itu sebanyak 2.390 unit. Jumlah itu terdiri dari 78 granat, 27 mortir, 1.748 proyektil kaliber besar, 148 proyektil kecil, 379 pelontar granat, dan 10 selongsong peluru besar.

Persenjataan perang tersebut ditemukan oleh 3 remaja, yakni Anugrah (14), Ridwan (14) dan Sakka (14), di Sungai Tampulazong di Dusun Tanete Lolo, Desa Swadaya, Kecamatan Libureng, Kabupanten Bone, Sulsel, Minggu 10 Mei lalu. Saat sedang bermain di sungai yang mengering itu, ketiga siswa SMP ini tiba-tiba melihat sejumlah benda aneh menyembul dari dalam tanah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat dilihat lebih dekat, ketiganya menemukan banyak benda yang terbuat dari logam dengan aneka bentuk. Ketiganya pun kemudian melaporkan temuan ini ke orang tuanya masing-masing.

Orang tua ketiga bocah tersebut bersama sejumlah warga kemudian mendatangi lokasi penemuan benda tersebut. Mereka kaget saat mengetahui bahwa benda-benda tersebut adalah bahan peledak. Situasi di desa itu pun mendadak geger.

Temuan ini kemudian dilaporkan ke aparat desa dan polisi setempat. Tak lama kemudian, satuan Brimob Polda Sulsel didatangkan ke lokasi kejadian.

"Tim kemudian melakukan penggalian dan telah mengevakuasi bahan-bahan peledak tersebut," ujar Kapolda Sulsel Irjen Pol Mathius Salempang di Markas Brimob Polda Sulsel, Jl KS Tubun, Makassar, Selasa (12/5/2009).

Mathius menepis dugaan bahwa benda-benda berbahaya tersebut milik kelompok teroris. Menurut Mathius, dari kondisinya sudah berkarat, kemungkinan besar granat, mortir dan proyektil tersebut peninggalan pasukan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kahar Muzakkar.

Kahar Muzakkar adalah mantan prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel. Namun karena tidak setuju dengan kebijakan Presiden Soekarno, dia kemudian melakukan pemberontakan dengan mendirikan Tentara Islam Indonesia (TII) di Sulawesi.

Pada awal tahun 1950-an, Kahar Muzakkar bergabung dengan Darul Islam (DI), hingga kemudian dikenal dengan nama DI/TII di Sulawesi Selatan dan Tenggara.

Dalam Operasi Tumpas pada 3 Februari 1965, Kahar Muzakkar ditembak mati dalam pertempuran antara pasukan TNI dari satuan Siliwangi 330 dan anggota pengawal Kahar Muzakkar di Lasolo. Namun demikian, tidak jelas di mana jenazah Kahar Muzakkar dimakamkan. Hal ini menyebabkan banyak bekas pengikutnya mempertanyakan kebenaran peristiwa penembakan Kahar Muzakkar tersebut.

(mna/djo)


Berita Terkait