"Mereka datang bersenjata lengkap dan mengamuk. Mereka mencari satu orang satpam," kata Gendut, salah seorang satpam di pelabuhan HB dalam perbincangan pada detikcom, Senin (11/05/2009).
Gendut menceritakan, kasus ini sebenarnya berawal dari masalah sepele, yakni keributan antara seorang sopir taksi dan salah satu satpam. Namun taksi tersebut milik salah seorang perwira di Polda Kepri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak hanya itu, sopir taksi yang diketahui bernama Edi, juga mencopot semua rambu-rambu yang terpasang di pembatas jalan. Karena tindakannya ini, Edi ditegur Ibrian, satpam yang bertugas malam itu. Namun bukannya meminta maaf, Edi malah marah-marah. Dia bahkan memukul wajah Ibrian. Ibrian pun membela diri, sehingga keduanya akhirnya terlibat perkelahian.
Namun beberapa saat setelah kejadian itu, anggota Polda Kepri M Soleh ke datang ke lokasi kejadian. Dengan nada tinggi, dia meminta satpam yang berkelahi dengan Edi menyerahkan diri.
M Soleh ternyata tidak sendirian. Puluhan personel polisi lainnya juga berdatangan ke pelabuhan HB. Mereka menyisir sejumlah cafe di kawasan tersebut untuk mencari Ibrian. Hal ini membuat banyak pengunjung panik dan berhamburan pulang. Arogansi petugas tersebut selesai sekitar pukul 01.00 WIB, Senin (11/5/2009), setelah mereka menemukan Ibrian.
"Kawan kami sekarang di tahan di Poltabes Batam. Padahal justru dialah yang dipukul lebih dahulu. Tapi karena yang punya taksi anggota Polda, ya akhrinya kami tetap dalam posisi bersalah," keluh Herman.
Saat dikonfirmasi, M Soleh membantah telah mengerahkan anak buahnya ke pelabuhan HB untuk mencari Ibrian. Menurutnya, kedatangan personel polisi itu karena ada laporan penganiayaan terhadap sopir taksi oleh seorang satpam.
"Mereka (polisi) datang berdasarkan laporan sopir saya yang dipukuli satpam. Jadi bukan atas perintah saya," kilah Soleh.
"Saya bukan membeking tapi memang benar, itu taksi milik saya. Saya datangkan untuk melihat sopir saya," imbuh Soleh. (cha/djo)










































