Sejak Rabu (6/5/2009) pukul 17.00 Wita, kedua orang tua Chusnul sudah dibuat panik dengan hilangnya anak tercintanya. Ayah Chusnul, Serda Ismail, yang seharusnya piket di kantor Koramil VII Mamajang, terpaksa kembali ke rumahnya untuk mencari puteri kesayangannya.
Berbagai cara telah ditempuh oleh Ismail, termasuk mengerahkan rekan-rekannya sesama prajurit karena khawatir puterinya diculik. Usai salat berjamaah di masjid Nurul Askar yang letaknya di tengah kompleks, berita kehilangan Chusnul juga diumumkan dengan pengeras suara masjid. Namun hasilnya tetap nihil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di balik badan tegap Ismail berseragam TNI yang terpampang di foto keluarga bersama dua anak dan istrinya, terlihat jelas kesedihannya saat ia tak henti-hentinya meraung dan memeluk jasad puterinya yang membujur di hadapannya. Demikian pula Rahmawati. Tangisnya tak terbendung saat para kerabatnya berdatangan.
Salah satu tetangga Ismail, Fakma, yang ditemui detikcom di rumah duka menuturkan kemungkinan korban terjatuh di sumur saat hendak meraih timba plastik. "Sore tadi, Chusnul masih sempat menonton ibunya bermain voli di lapangan, mungkin ia hendak mencuci kakinya yang kena debu di sumur," jelas Fakma.
Sementara menurut koordinator keamanan asrama, Basrullah, tinggi tembok sumur hanya 50 cm dan sangat memungkinkan anak seusia Chusnul bisa terjerembab. Selain itu di sekitar lokasi sumur pada sore hari lebih sering sepi sehingga tak ada yang melihat atau mendengar teriakan Chusnul.
(mna/sho)











































