"Suami saya masih trauma. Dia takut keluar rumah dan kaget setiap mendengar suara keras, misalnya orang menutup pintu dengan kencang dan sebagainya," kata Ningsih, istri Parmin, saat berbincang-bincang dengan detikcom, Rabu (6/5/2009).
Menurut Ningsih, pascapenembakan Nasrudin, suaminya diamankan oleh aparat kepolisian. Parmin baru pulang ke rumah Minggu 3 Mei lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi Parmin yang trauma itu berangsur tenang setelah berobat ke psikiater. Namun demikian, Parmin masih takut untuk keluar rumah.
"Kalau semalam sudah bisa tidur setelah berobat ke psikiater di RS Dharmais. Tapi bapak tetap masih takut keluar rumah. Ya mudah-mudahan saja kondisi bapak cepat sembuh, dan tidak ada kejadian apa-apa lagi," tutur Ningsih.
Parmin telah bekerja sebagai sopir di kantor Nasrudin selama 1 tahun 3 bulan. Dan selama ini pria tersebut tidak pernah bercerita apa pun tentang bosnya kepada sang istri.
"Awalnya suami saya bekerja sebagai sopir pribadi di rumah Pak Nas (Nasrudin). Tapi kemudian sama Pak Nas dimasukkan ke kantornya," ungkap Ningsih.
Parmin dan Ningsih menikah pada tahun 1998. Sampai saat ini, mereka telah dikaruniai 3 orang anak, 1 laki-laki dan dua perempuan. Parmin dan Ningsih sama-sama berasal dari Blora, Jawa Tengah. Mereka saat ini tinggal di Perumahan Teratai Griya Asri, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, Banten. (djo/ndr)











































