Krisis politik ini mengancam proses perdamaian antara bekas gerilyawan pemberontak Maoist di pemerintahan Nepal dengan militer nasional.
PM Dahal mencetuskan, dirinya mundur karena "keputusan tidak konstitusional dan tidak demokratis" oleh Presiden Nepal Ram Baran Yadav.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya telah mundur dari posisi PM mulai hari ini demi perlindungan demokrasi dan perdamaian," imbuhnya.
Pada Minggu, 3 Mei lalu, kabinet Nepal memberhentikan panglima militer Jenderal Rookmangud Katawal. Dia dituduh melawan perintah pemerintah. Berdasarkan perjanjian damai tahun 2006, para bekas gerilyawan Maoist akan bergabung ke dalam militer nasional Nepal. Namun Jenderal Katawal menghalang-halangi langkah itu. Alasannya, gerilyawan Maoist akan merusak militer. Karena sikapnya itu, kabinet Nepal memberhentikan Katawal.
Namun beberapa jam kemudian, Presiden Nepal Ram Baran Yadav mengangkatnya kembali. Pada Senin, 4 Mei, ribuan orang pendukung Maoist menggelar aksi unjuk rasa di Kathmandu untuk menentang keputusan presiden tersebut.
(ita/iy)











































