Hal tersebut disampaikan Rahmawati dalam sarasehan membahas wabah flu yang disebabkan virus H1N1 di sebuah rumah makan di Solo, Senin (4/5/2009). Sarasehan itu dihadiri oleh tidak kurang seratus peternak babi di Jateng dan DIY.
Rahmawati mengimbau semua pihak harus bijak dalam mengambil langkah-langkah. Penamaan flu babi untuk wabah flu yang disebabkan oleh virus H1N1 telah memojokkan ternak babi. Menurutnya, langkah proporsional harus diutamakan dalam penanggulangan wabah tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pakar hewan ternak, drh Enuh Raharja Jusa, yang menjadi pembicara dalam sarasehan tersebut juga meminta agar sebaiknya penamaan flu babi diganti dengan nama yang tidak identik dengan hewan tertentu sehingga akan mengesankan hewan tersebut sebagai biang keladi wabah.
"Sebaiknya dipakai istilah North America Influenza atau Mexican Influenza. Istilah itu lebih pas sebagai penamaannya daripada flu babi. Karena dalam kasus ini babi juga hanya korban. Penyebab utamanya adalah burung liar yang menulari unggas lalu menulari manusia, baru kemudian manusia menulari babi," ujarnya.
Dalam saresehan itu, para peternak babi mengeluhkan gencarnya berita flu virus H1N1 telah menimbulkan kekhawatiran konsumen daging babi secara berlebihan. Akibatnya para peternak mengaku mengalami kerugian sangat besar. Penjualan ternak dan daging babi mereka mengalami kemerosotan 50 hingga 60 persen.
"Dalam sepekan ini penurunan penjualan babi di Solo mencapai 50 persen. Ini luar biasa. Sedangkan penurunan pakan ternak mencapai 20 hingga 30 persen. Kami kira, sudah saatnya Pemerintah harus segera mengambil langkah-langkah sebelum semua terlanjur kolaps," ujarnya.
Sedangkan Ketua Koperasi Peternak Babi Yogyakarta, Mario Kusdiharjo, mengatakan setiap harinya tidak kurang dari 4 ton daging babi di Yogyakarta yang tidak bisa dipasarkan karena konsumen ketakutan. "Sudah empat hari terakhir ini sama sekali tidak ada pemasaran," ujarnya.
(mbr/djo)










































