Penutupan Peternakan Babi Bisa Rugi Rp 25 Triliun

Flu Babi

Penutupan Peternakan Babi Bisa Rugi Rp 25 Triliun

- detikNews
Senin, 04 Mei 2009 14:32 WIB
Penutupan Peternakan Babi Bisa Rugi Rp 25 Triliun
Solo - Ketua Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI), Rahmawati, mengimbau semua pihak lebih bijak dalam menyikapi persoalan wabah flu yang disebabkan virus H1N1. Penyebutan flu babi telah merugikan peternakan babi. Padahal jika peternakan babi ditutup kerugiannya bisa mencapai Rp 25 triliun.

Hal tersebut disampaikan Rahmawati dalam sarasehan membahas wabah flu yang disebabkan virus H1N1 di sebuah rumah makan di Solo, Senin (4/5/2009). Sarasehan itu dihadiri oleh tidak kurang seratus peternak babi di Jateng dan DIY.

Rahmawati mengimbau semua pihak harus bijak dalam mengambil langkah-langkah. Penamaan flu babi untuk wabah flu yang disebabkan oleh virus H1N1 telah memojokkan ternak babi. Menurutnya, langkah proporsional harus diutamakan dalam penanggulangan wabah tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jangan sampai nantinya ada keputusan sangat merugikan, misalnya menutup peternakan babi. Menutup peternakan babi di seluruh Indonesia akan merugi tidak kurang dari Rp 25 triliun. Itu belum ditambah dengan kerugian yang ditanggung produsen pakan dan produsen obat-obatan," paparnya.

Pakar hewan ternak, drh Enuh Raharja Jusa, yang menjadi pembicara dalam sarasehan tersebut juga meminta agar sebaiknya penamaan flu babi diganti dengan nama yang tidak identik dengan hewan tertentu sehingga akan mengesankan hewan tersebut sebagai biang keladi wabah.

"Sebaiknya dipakai istilah North America Influenza atau Mexican Influenza. Istilah itu lebih pas sebagai penamaannya daripada flu babi. Karena dalam kasus ini babi juga hanya korban. Penyebab utamanya adalah burung liar yang menulari unggas lalu menulari manusia, baru kemudian manusia menulari babi," ujarnya.

Dalam saresehan itu, para peternak babi mengeluhkan gencarnya berita flu virus H1N1 telah menimbulkan kekhawatiran konsumen daging babi secara berlebihan. Akibatnya para peternak mengaku mengalami kerugian sangat besar. Penjualan ternak dan daging babi mereka mengalami kemerosotan 50 hingga 60 persen.

"Dalam sepekan ini penurunan penjualan babi di Solo mencapai 50 persen. Ini luar biasa. Sedangkan penurunan pakan ternak mencapai 20 hingga 30 persen. Kami kira, sudah saatnya Pemerintah harus segera mengambil langkah-langkah sebelum semua terlanjur kolaps," ujarnya.

Sedangkan Ketua Koperasi Peternak Babi Yogyakarta, Mario Kusdiharjo, mengatakan setiap harinya tidak kurang dari 4 ton daging babi di Yogyakarta yang tidak bisa dipasarkan karena konsumen ketakutan. "Sudah empat hari terakhir ini sama sekali tidak ada pemasaran," ujarnya.

(mbr/djo)


Berita Terkait