Kericuhan berjadi setelah ribuan buruh yang tergabung dalam berbagai elemen buruh di Sumut meminta pihak kepolisian membuka blokade pagar berduri dan mengizinkan pengunjukrasa memasuki halaman depan.
Namun permintaan itu tidak mendapat perhatian.
Akibatnya, buruh merusak blokade pagar berduri yang terpasang di Jl. Diponegoro Medan dengan memukul menggunakan kayu. Aksi buruh ini sempat mendapat tentangan dari petugas. Bahkan buruh sempat terlibat perang mulut dengan petugas.
Salah seorang pengunjukrasa Syafrudin Siregar mengatakan, pemblokiran Kantor Gubernur adalah bentuk provokasi yang dilakukan pihak kepolisian.
"Kita aksi damai. Tapi kalau ada pemblokiran pagar berduri, kami keberatan. Ini bentuk provokasi polisi memancing kemarahan buruh," kata Syafrudin.
Setelah dua jam melakukan desakan, buruh akhirnya berhasil masuk ke halaman depan kantor setelah petugas kepolisian membuka sebagian blokade.
Meski telah menggelar orasi di halaman depan, Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin tak kunjung menemui pengunjukrasa. Akibatnya, ribuan buruh kesal dan kembali mendesak masuk ke halaman dalam kantor Gubernur.
Petugas yang telah disiagakan tidak dapat berbuat banyak. Ribuan pengunjukrasa berhasil masuk ke halaman dalam dan mendesak Syamsul Arifin menanggapi tuntutan buruh. Buruh kembali kecewa saat Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara RE. Nainggolan menemui pengunjukrasa. Meski begitu, aksi buruh akhirnya berhenti setelah masuk waktu salat Jumat.
Dalam unjukrasa ini buruh menuntut kenaikan upah layak dan menolak PHK. Buruh juga menolak sistem kerja kontrak, borongan, harian lepas dan outsourching. Selain itu buruh juga mengecam terjadinya kekerasan terhadap buruh.
(rul/djo)











































