"Tetap masuk. Ini lagi ramai-ramai mau berangkat ke pabrik," kata Putri (19), seorang buruh garmen di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung kepada detikcom, Jumat (1/5/2009).
Putri beserta puluhan buruh pabrik lainnya tampak menunggu angkutan umum. Tak ada bus jemputan layaknya di beberapa pabrik lainnya. "Dalam sebulan, minimal Rp 200 ribu buat transportasi," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Uang kontrakan per bulan Rp 350 ribu, itu pun belum termasuk listrik dan air PAM. Tak ada kemewahan di bilik rumah yang setengahnya telah kusam warnanya ini.
"Semua dibagi rata di antara kami bertiga," kata Putri dengan logat Tegal.
Guna menghemat pengeluaran, Putri kadang memasak sendiri. Jika keuangan mepet di akhir bulan, perut cukup diganjal dengan nasi dan mie instan. "Di sini semua beli. Air minum pun beli. Kalau air PAM bikin perut mules meski dah di masak," curhat anak pertama dari 3 bersaudara ini.
Selain kontrakannya Putri, masih ada 5 kontrakan lainnya yang berderet. Tak ayal, pemandangan kumuh dengan jemuran terbentang di mana-mana tak bisa di hindarkan.
"Sebulan dapat upah Rp 1 jutaan. Kalau ambil lembur, dapat tambahan tapi itu pun jarang," tutur perempuan berambut sebahu ini.
Meski ribuan buruh memperingati Mayday, tapi tak berlaku bagi Putri dan pabriknya. Dirinya memilih bekerja karena ingin mengumpulkan uang lembur buat beli tv.
"Kalau dikumpulin uang lembur hingga akhir bulan ini kayaknya dapat tv yang 14 inchi. Kalau sisa gaji ditabung sama di kirim ke ibu di kampung," kata Putri.
(asp/aan)











































