Di daerah Jakarta Barat misalnya. Nyaris di wilayah ini tak luput dari terpaan panas. Terlebih di jalur utama seperti S Parman, Latumenten sampai Pluit. Salah satu pemicu tak lain maraknya pembangunan pusat perbelanjaan yang tidak menyisakan lahan hijau.
Untunglah, situasi itu agak didinginkan dengan hawa adem hutan pohon pisang. Letaknya dibawah kolong tol dalam kota yang melintang di Pejagalan, Jakbar. Luasnya cukup signifikan sekitar 4 kali lapangan bola yang memanjang disamping Banjir Kanal Barat (BKB).
"Nggak tahu siapa yang menanam duluan. Saya disini sudah banyak pohon pisangnya," kata Samsul (46) salah satu tunawisma yang membangun gubuk di tengah hutan pisang tersebut, Kamis (30/4/2009).
Menurut Samsul menirukan cerita yang beredar, lahan tersebut sebelumnya adalah lahan tidur alias terbengkalai. Hanya tanaman gersang dan kubangan air menyerupai rawa-rawa. Bila siang, hawanya panas menyengat dan berdebu. Kalau malam sepi dan gelap tidak ada penerangan.
"Ibarat kata, dulunya disini tempat jin buang anak," imbuh Samsul.
Seiring pembangunan Jakarta yang makin melebar, wilayah tersebut mulai berubah. Di sekitar hutan pohon pisang tumbuh menjadi pemukiman padat. Sementara yang tidak beruntung membangun gubuk di antara rerimbunan pohon pisang.
"Kalau berbuah, ya, dijual ke pedagang. Jumlahnya lumayan banyak," ucap Manan (35) menyebut pisang kepok sebagai salah satu contohnya.
Sayangnya, sebagai "lahan tak bertuan" hutan tersebut dapat digusur sewaktu-waktu. Sejumlah warga pernah mendengar isu miring itu berkali-kali tetapi tak pernah terbukti. "Sudah bosan dengarnya mau digusur. Tapi nggak pernah terbukti," seloroh Manan.
Sejumlah kolong tol di Jakarta banyak menyisakan ruang. Ada yang dijadikan perkampungan, ruang bermain, tempat sampah atau hanya menjadi lahan tidur. Sayangnya, cuma sedikit yang dijadikan tempat pendingin udara seperti hutan pisang Penjagalan itu.
(Ari/irw)











































