"Ini tidak bisa ditolerir, ini tidak bisa. Ini semacam iceberg, akan membahayakan, bisa menjadi fenomena yang menyebar. Ini sangat disayangkan," kata pengamat militer dari Universitas Parahyangan Anak Agung Banyu Perwita saat dihubungi melalui telepon, Kamis (30/4/2009).
Menurutnya, demo rusuh itu terjadi karena pemimpin TNI tidak peka terhadap anak buah. Dan akar utama masalah ujung-ujungnya adalah kesejahteraan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demo rusuh di Sentani terjadi akibat kematian seorang prajurit karena sakit. Jenazah tidak bisa dikirim ke kampung halamannya di Nabire karena batalyon tak punya uang. Komandan batalyon lalu memerintahkan anak buahnya iuran, menanggung ongkos pengiriman jenazah 50 persen.
Kasus di Sentani itu harus mendapatkan perhatian serius pemerintah. "Tentara demo itu sangat tidak diperbolehklan. Semestinya saat ada anak buah meninggal, komandan harus bisa mengakomodasi. Kalau sakit dalam masa aktif, itu menjadi tanggung jawab batalyon. Kesalahan ada di komandan," ujar Agung.
(ndr/nrl)











































