Salah seorang peternak babi di Medan Listim Simangungsong menyatakan, harga penjualan daging babi di tingkat peternak menurun drastis. Pada Rabu (29/4/2009) penurunan sudah mencapai Rp 4 ribu dibanding hari-hari sebelumnya.
"Karena banyak berita di media, orang jadi takut makan daging babi. Takut tertular flu babi. Padahal virus itu belum ada di Indonesia," kata Listim, peternak di kawasan Jl. Tanggung Bongkar VII, Kelurahan Tegal Sari Dua, Kecamatan Medan Denai, Medan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peternak mengaku tidak dapat melakukan upaya apapun untuk mendongkrak harga jual daging babi kecuali dengan membersihkan kandang dan menjaga kesehatan peliharaannya.
Guna mengantisipasi penularan virus flu babi dari babi ke manusia atau manusia ke manusia, Kepala Lingkungan (Kepling) 07, Kelurahan Tegal Sari, Kecamatan Medan Denai, Hot Darwin Lubis menghimbau peternak babi lokal di daerahnya untuk membersihkan kandang tiga kali sehari dan memberikan vaksin anti penyakit kepada peliharaannya.
"Kita juga berharap pihak Dinas Kesehatan Kota Medan segera melakukan penyemprotan untuk membatasi penularan virus flu babi ke ternak warga," kata Lubis.
Lubis mengatakan, peternak babi lokal di kawasan Jl. Tangguk Bongkar VII, Kelurahan Tegal Sari mencapai 50 keluarga. Setiap keluarga sediktnya memiliki belasan hingga puluhan ekor babi.
"Ternak babi ini jadi usaha sampingan beberapa rumah tangga di kawasan ini," kata Lubis
(rul/ndr)











































