"Saya menduga dia diculik," ujar paman Alfaret, Sihombing, saat dihubungi wartawan, Selasa (28/4/2009).
Sihombing mengatakan, awalnya pada Sabtu (25/4/2009) siang, ayah korban, Jonior Hutabarat (60) mendapat telepon dari nomor telepon milik Alfaret. Penelepon yang mengaku petugas PJR bernama Wandi yang mengabarkan bahwa Alfaret mengalami kecelakaan di Tol Jakarta-Merak Km 14.
"Wandi mengatakan kalau Alfaret celaka dan sedang diopname di Rumah Sakit Budi Mulia. Tapi setelah dicek, tidak ada rumah sakit tersebut," katanya.
Keesokan harinya, Jonior mendapat SMS dari nomor yang berbeda. "SMS tersebut mengatakan kalau Alfaret tidak celaka. Tapi memang Alfaret saya kerjai, untung saja tidak saya bilang mati," kata Sihombing menirukan isi sms tersebut.
Pada Minggu (26/4/2009) siang, Alfaret sempat menghubungi ayahnya melalui nomor handphone milik Alfaret. Dalam pembicaraan yang berlangsung singkat tersebut, Alfaret mengabarkan bahwa dia mengalami patah tulang akibat tabrakan.
"Tapi dia tidak bilang dirawat di rumah sakit mana. Teleponnya keburu keputus," tutur Sihombing.
Sore harinya, Jonior kembali mendapat telepon dari Wandi. Dalam perbincangan tersebut, Wandi mengaku kalau dia mencuri handphone milik korban.
"Dia bilang dia nggak punya kerjaan, terus ngaku mau nyuri HP saja," kata Sihombing.
Wandi bahkan meminta Jonior untuk bertemu dengannya di daerah Kelapa Gading. Namun Jonior menolaknya.
Jonior saat dihubungi secara terpisah mengatakan, selama ini hubungan antara dia dengan anaknya baik-baik saja. Bahkan 1,5 tahun lalu, saat Alfaret kabur dari kampung halamannya di Medan, Jonior tidak memarahi anaknya.
"Selama ini baik-baik saja. Saya tidak pernah memarahi dia. Dia juga tidak pernah minta apa-apa," kata Jonior.
Jonior menduga kuat kalau anaknya tengah disekap oleh pelaku. Alasannya, handphone serta uang Rp 1,5 juta milik Alfaret diambil pelaku.
"Artinya dia disandera. Mungkin dia dilarang pelaku untuk memberitahu keberadaannya," kata Jonior.
Hingga kini, kondisi Alfaret belum diketahui. Jonior sendiri telah melaporkan peristiwa tersebut ke Polda Metro Jaya pada Sabtu (25/4/2009).
(mei/nrl)











































