"Kami rakyat Indonesia menuntut agar Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, menarik penuh laboratorium Namru-2 dan menghentikan semua operasi militer dan intelejen yang berbahaya bagi keamanan umat manusia," kata juru bicara Front Usir Namru, Agung Nugroho, kepada wartawan di Jakarta, Senin (27/4/2009).
Menurut Agung, keberadaan laboratorium Namru-2 di Indonesia sejak tahun 1968 adalah demi kepentingan Angkatan Laut AS. Walau ada Memorandum Of Understanding (MOU) antara pemerintah AS dan Indonesia telah berakhir pada tahun 2005, namun laboratorium itu tetap beroperasi dan melanggar kedaulatan bangsa, negara dan rakyat Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
FUN, lanjut Agung, juga meminta kepada semua lembaga asing di Indonesia termasuk World Health Organization (WHO) mematuhi hukum yang berlaku di Indonesia dan tidak memfasilitasi lagi pencurian-pencurian virus asal Indonesia. Siapa pun nanti yang akan terpilih menjadi presiden di Indonesia harus menolak keinginan sejumlah elit politik di DPR yang ingin membuka kembali laboratorium Namru-2.
"Presiden Indonesia pantang takut dengan ancaman imperialisme AS, karena ada 220 juta rakyat yang siap membela negara Indonesia." tegasnya.
Agung juga meminta agar Polri dan Kejagung untuk memeriksa anggota DPR yang bersekongkol untuk membuka laboratorium tersebut. Bahkan bila perlu Panglima TNI dan Kepala BIN tidak berdiam diri dan bertindak tegas saat specimen darah ratusan prajurit TNI di Papua diambil dicuri oleh laboratorium Marinir AS di Namru-2 dan operasi intelijen ilegal di Indonesia.
FUN juga mendukung Menkes Siti Fadilah Supari yang menentang ekspolitasi imperialisme di bidang kesehatan dan tidak takut dengan berbagai gertakan murah kaum kapitalis. Depkes harus mampu mendorong pengembangan penelitian dalam negeri untuk kepentingan kesehatan Indonesia.
Ditambahkan Agung, rencananya Selasa (28/4/2009) besok siang akan ada diskusi dan penandatangan Petisi Bersama Usir Namru-2 di gedung Jakarta Media Center (JMC), Jl Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Ke-24 ormas, LSM dan akademisi ini di antaranya, Ikhwanul Muslimin (IM), Dewan Kesehatan Rakyat (DKR), Rumah Demokrasi Rakyat, Gema Nusantara, ILALANG, Dewan Kebangkitan Islam Indonesia, Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia (ISMAFARSI), Forum Kepemimpinan Pemuda Indonesia (FKPI), Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI).
Jaringan Orang terinfeksi HIV (JOTHI), Perkumpulan Korban Napzah Indonesia (PKNI), Institute For Global Justice (IGJ), Poros Wartawan Jakarta (PWJ), Dewan Wartawan Untuk Rakyat (DWR), Forum Pancasila, Center For Democracy And Social Justice Study (CeDSoS), PRAXIS, SKEPHI, Laramse, Serikat Tani Nasional (STN), Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI). Tiga perguruan tinggi yang mendukung gerakan ini, di antaranya Universitas Samratulangi, Universitas Atmajaya dan Universitas Gajah Mada.
(zal/rdf)











































