Pihak keluarga yang datang, Hartanto Widjaja (ayah korban), Kusuma Widjaja (paman korban) didampingi Ketua Tim Verifikasi Kasus David, Iwan Piliang dan sejumlah anggota Tim Verifikasi langsung diterima komisioner dan Ketua Sub Mediasi Komnas HAM Kabul Supriadi di Kantor Komnas HAM, Jl Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (27/4/2009).
"Dalam kasus ini keluarga sedih, ketika dulu ada kasus penculikan seorang Presiden sampai bicara. Tapi kali ini ada anak bangsa yang potesial meninggal dunia dan TKW mati sudah dengan peti mati, kita diam saja. Ini keterlaluan, kami menyayangkan, negara seakan entah di mana?" kata Iwan dengan nada kecewa dalam pertemuan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya, Kedubes Singapura pun sangat tergantung kepada Deplu dan pemerintah pusat. "Amat disayangkan keterangan Menlu Hasan Wirajuda di Bali dua pekan lalu bahwa keluarga David berjalan sendiri. Justru bila kita tidak bergerak, dalam persidangan first mention yang sudah berjalan, keluarga tidak punya lawyer," jelasnya.
Tidak hanya pemerintah, pihak kepolisian dan BIN juga terhambat persoalan administrasi birokrasi dalam kasus ini. Seharusnya, negara memberikan jaminan keamanan kepada tim, dukungan biaya. Justru dukungan ini muncul dari sumbangan masyarakat dan para blogger di Facebook sebesar Rp 150 juta.
"Saya sendiri dua kali datang ke Singapura harus diperiksa selama berjam-jam di Bandara Changi," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, komisoner Komnas HAM, Kabul Supriadi mengatakan, pihaknya meminta data terkait kasus tersebut. Dia berjanji akan membawa laporan ini dalam rapat agar ditindaklanjuti.
"Sebab bagaimana pun kasus ini terkait dua negara yang memiliki perbedaan yuridiksi dan hukum. Tapi ini kasus meninggalnya seseorang yang perlu diselesaikan," jawabnya.
Pihak keluarga dan Tim Verifikasi pun rencananya, Selasa (28/4/2009) besok akan mengirimkan sejumlah data dan bukti hasil temuan di Singapura.
(zal/rdf)











































