"Intensifkan peran karantina dan pemeriksaan kesehatan di pintu-pintu masuk pelabuhan dan bandara," kata Widaya kepada wartawan di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) di Bulaksumur, Yogyakarta, Senin (27/4/2009).
Sebab bandara dan pelabuhan merupakan pintu masuk utama bagi orang luar atau asing ke Indonesia. Orang-orang dari Amerika Latin dan Amerika Utara itu berisiko membawa virus flu babi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengatakan dari data yang sampai sekarang dianalisis, memang virusnya H1N1 berasal dari babi. Yang terjdi di Meksiko sudah memungkinkan penularan dari orang ke orang. Kemungkinan menular ke orang sangat besar. Di Amerika flu babi sudah pernah terjadi 1976.
"Akibat tertular dari babi, seorang tentara meninggal, karena virus swine influenza. Tapi dulu, korban tidak sebanyak seperti kasus di Meksiko," katanya.
Menurut dia, faktor penularan dari babi ke manusia sama halnya kasus penularan flu burung. Jadi bisa melalui kontak secara langsung atau kontak dengan bahan-bahan yang tercemar virus.
"Yang dikhawatirkan, virus ini dibawa orang yang tertular ke tempat lain dengan moda transportasi yang begitu cepat seperti sekarang. Ini yang berbahaya," ungkap dia.
Diakui oleh Guru Besar FKH UGM ini, virus flu babi menunjukkan perkembangannya cukup bagus di negara tropis seperti halnya di Indonesia. Meski demikian, virus ini tidak berhubungan dengan peternaan-peternakan babi. Untuk sementara ini, peternakan babi di dalam negeri relatif masih aman, tidak ada satu pun ditemukan virus influenza H1N1. Sehingga peternakan babi di Indonesia tidak perlu mendapat perlakukan khusus.
"Sampai saat ini tidak perlu diperlakukan khusus karena tidak ada masalah. Yang penting tetap ditingkatkan budaya ternak yang sehat sama seperti waktu wabah flu burung," ujarnya.
(bgs/ken)











































