"Penyakit degeneratif telah menjadi epidemi di seluruh negera dunia, seperti penyakit diabetes, jantung, dan stroke. Hal ini terjadi karena adanya perubahan hidup, terutama pada orang muda modern," ujar salah seorang anggota Steering Committee Residual
Risk Reduction Initiative (R3i) Prof. Slamet Suyono saat konferensi pers di Hotel Manhattan, Jl Prof. Dr. Satrio, Casablanca, Jakarta Selatan, Minggu (26/4/2009) kemarin.
Selain pola konsumsi makanan, gaya hidup yang tidak teratur juga merupakan
penyebab timbulnya berbagai macam penyakit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
raga merupakan penyebab penyakit jantung koroner, dan stroke," katanya.
Menurut Slamet, beberapa asumsi di atas membuat para pakar kedokteran baik ilmuwan maupun klinisi kedokteraan telah berusaha meningkatkan kualitas dan pengobatan dalam menangani hal tersebut.
"Oleh karena pakar dunia membuat terobosan baru yaitu membentuk Residual Risk Reduction Initiative (R3i)," jelasnya.
Slamet menjelaskan, R3i adalah sebuah lembaga non-profit. Sebuah lembaga akademis yang saat ini berusaha menurunkan risiko vaskular sisa (residual vascular risk).
"Ada tiga aspek yang akan dilaksanakan yaitu dengan penelitian, program pendidikan untuk meningkatkan kesadaran para dokter umum kepada pasien, terakhir dengan advokasi untuk memastikan pasien mendapat prioritas pengobatan," imbuhnya.
Saat ini, R3i dipimpin oleh Dewan Perwakilan dan International Steering Committee (ISC) yang beranggotakan berbagai pakar ilmu kesehatan.
"Bidang ilmu yaitu Kardiologi, diabetologi, lipidoilogi, endokronologi, epidemiologi, nutrisi, dan beberapa lagi," sebutnya.
Badan legal R3i yang telah dibentuk di Swiss ini, tengah melakukan pembentukan organisasi nasional di 40 negara. Para anggota R3i ini nantinya akan melakukan penelitian dan program edukasi di negara masing-masing.
"Untuk di Indonesia baru ada pertemuan dari SC untuk membahas langkah ke depannya," pungkasnya.
(fiq/anw)











































