Momen itu ternyata menuai kritikan dari para anggota legislatif Republikan. Sebab Chavez selama ini dikenal sebagai diktator anti-Amerika yang kerap berseteru dengan pemerintah AS, khususnya selama kepemimpinan Presiden AS George W Bush.
Namun Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Hillary Clinton membela Obama yang bersikap hangat pada Chavez, seteru AS itu. Bahkan bagi Hillary, kontroversi soal jabatan tangan itu merupakan hal yang menggelikan.
"Jujur saja, saya anggap itu menggelikan," kata Hillary yang saat itu bersama Obama dalam KTT Amerika di Trinidad tersebut. "Presiden Obama benar saat mengatakan: kenapa kita harus takut bersalaman dengan orang lain?" kata mantan ibu negara AS itu pada komite urusan luar negeri DPR AS.
Namun anggota DPR AS dari Partai Republik, Mike Pence menentang pernyataan Hillary tersebut. "Dengan segala hormat, Ibu Menteri, saya tidak anggap ini menggelikan," cetusnya.
"Dia (Chavez) telah menekan media. Dia telah mengganggu kepentingan ekonomi di negara itu. Dia telah mem-blacklist lawan-lawan politik dari badan-badan kenegaraan," kata Pence seperti dilansir Reuters, Kamis (23/4/2009).
Chavez telah lama berseteru dengan Bush, yang disebutnya sebagai "iblis". Namun dalam pertemuan pertamanya dengan Obama di KTT Amerika itu, Chavez memberikan sebuah buku pada presiden baru AS itu. Saat berjabatan tangan dengan Obama, Chavez juga mengatakan, "Saya ingin menjadi teman Anda."
Ditegaskan Hillary, dirinya akan mendukung Obama. "Yang terpenting adalah saya di sini untuk mengabdi pada negara saya, yang telah saya cintai sejak saya masih kecil," tutur istri mantan Presiden AS Bill Clinton itu. "Dan saya akan mendukung presiden saya," imbuh Hillary yang telah bersaing ketat dengan Obama dalam pemilihan presiden November lalu.
Ditandaskan Hillary, jabatan tangan Obama dengan Chavez bukan berarti dukungan AS untuk kebijakan pemimpin Venezuela. "Itu bukan berarti kita akan menyerah pada prinsip-prinsip kita," pungkas Hillary. (ita/iy)











































