"Selamat, ya, mbak, Anda mendapatkan hadian Rp 10 juta dari provider GSM nomor ini...," kata perempuan di ujung telepon.
"Wah, makasih, ya. tapi, perasaan saya tak pernah mengikuti undian hadiah," ucap pemilik HP, Astri Maynita Sari (26) yang mengungkapkan percakapannya tersebut kepada detikcom, Rabu (22/4/2009).
"Benar, kami memang memilihnya secara acak. Jadi kalau boleh tahu, bisa minta nama dan identitas lainnya," sambung si penelepon sebagaimana ditirukan Astri.
"Loh, kok anda tak tahu nama saya. Kan nomor saya pasca bayar, harusnya anda tahu dong nama saya," sanggah Astri curiga.
Lalu, penelepon gelap langsung mencari-cari alasan untuk menutupi niat jahatnya. Hingga beberapa menit kemudian HP dimatikan secara sepihak.
"Saya sudah sering baca berita tentang penipuan hadiah lewat telepon di media massa. Jadi harus hati-hati," ujar Actri yang bekerja di sektor advertising di Kawasan Kramat Raya, Jakarta Pusat.
Detikcom juga mendapatkan laporan serupa yang menimpa Roni (27), warga Jagakarsa. Mirip dengan penelepon pertama, pelaku memberitahukan pengumuman hadiah sebesar Rp 10 juta dari provider seluler yang bersangkutan. Pelaku menggunakan nomor GSM pra bayar dari provider serupa.
Sayangnya,ketika di tanya lebih lanjut, pelaku selalu berkelit dan menjawab berbelil-belit. Jika kira-kira korban sudah tak mempan dibohongi, pelaku langsung menutup telepon secara kasar.
"Masa dalam krisis ekonomi sulit seperti ini ada yang tiba-tiba bagi-bagi hadiah Rp 1O juta. Yang bener saja," ujar laki-laki yang bekerja di Pal Merah, Slipi, Jakarta Barat.
Meski pelaku masih marak melakukan aksinya, jarang yang melaporkan tindak pidana percobaan penipuan ini ke kepolisian. Alhasil, pelaku pun masih bebas membohongi calon korbannya.
"Ngapain juga melaporkan ke polisi,gak ketangkap juga. Pandai-pandainya kita mengantisipasi," ujar Putra (29) warga Mampang yang pernah mendapatkan telepon gelap memberitahukan hadiah Rp 100 juta.
(asp/irw)











































