Mulyono memang tidak pernah memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Sebabnya tidak lain karena kemiskinan. Selama ini, pria malang itu hanya tinggal di sebuh gubuk reyot berukuran 4 X 6 meter, bersama istri dan adiknya. Sehari-hari, pekerjaannya hanya mencari kayu bakar di hutan.
Keadaan Mulyono sungguh mengenaskan. Seluruh tubuhnya, tak terkecuali jari-jari tangan dan kakinya, dipenuhi benjolan. Bahkan, benjolan-benjolan tersebut sampai menutupi lubang telinganya sehingga pendengaran Mulyono terganggu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bahkan, benjolan itu menutupi telinganya sehingga kakak saya tuli. Pandangan matanya juga kabur," ujar Mariyono.
Dianggap Kena Kutukan dan Gila
Ibarat jatuh tertimpa tangga pula. Derita Mulyono semakin diperparah perlakukan para tetangganya. Mereka menanggap Mulyono terkena kutukan dan gila. Pihak keluarga hanya bisa pasrah menghadapi hal tersebut.
"Mungkin ini sudah menjadi garis hidup suami saya. Kita hanya bisa pasrah. Kalau ada yang menganggap suami saya gila, ya saya diam saja," ungkap Romidah, istri Mulyono.
Menurut Romidah, sebenarnya Mulyono pernah diperiksakan ke Puskesmas setempat. Namun kondisi Mulyono tetap tidak berubah. Dokter Puskesman bahkan mengaku tidak tahu jenis penyakit yang mendera pria malang itu.
Kini yang bisa dilakukan Romidah adalah berharap 'Tangan Tuhan' datang kepadanya. Dia berharap ada dermawan yang mau membiayai suaminya berobat ke Rumah Sakit Besar.
"Mudah-mudahan ada yang mau membantu. Siapa sih yang tega melihat suami seperti itu," tutur Romidah penuh harap.
(djo/djo)











































