"Kita trauma banget, Mama dibilang ini itu. Kasian Mama, udah ada kanker rahim. Jangan negatif banget sama kita. Kita lagi susah banget," ujar Dewi kepada detikcom, Selasa (21/4/2009).
Menurut Dewi, keluarganya tidak hidup lantas bergelimang harta setelah Mano menikah dengan orang berkuasa di Kelantan. Ibunda dan kakak Mano hidup dari uang tabungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dewi menuturkan, sejak jumpa pers Senin (20/4/2009), belum ada pihak yang menghubungi untuk kelanjutan kasus Mano. "Kita masih disuruh tunggu oleh Pak Dai (Dubes RI di Malaysia Dai Bachtiar)," jelas Dewi yang akan melanjutkan kuliah ke Sydney, Australia, ini.
Dalam jumpa pers kemarin, Daisy mengatakan, tuduhan miring kepadanya pertama-tama datang dari Istana Kelantan sendiri. Hal itu terjadi pada saat Mano kabur ke Indonesia akhir tahun lalu. Daisy disebut membawa pulang anaknya itu karena mengingingkan uang sebesar RM 600 ribu.
"Tapi akhirnya mereka mengakui bahwa pernyataan itu tidak benar," jelas perempuan berjilbab ini.
Daisy mengatakan, tuduhan gila harta yang menimpanya juga dialamatkan oleh pihak-pihak Indonesia. Setiap pejabat Indonesia yang dia temui selalu menanyakan dia mendapat uang berapa dari hasil mengawinkan anaknya dengan putra raja Kelantan pada 26 Agustus 2008 itu.
Daisy bahkan mengaku dipersalahkan karena menikahkan anak gadisnya yang sebelum menikah menjadi model tersebut. Ceritanya, pada 22 Maret 2009, dia menemui seorang pejabat di lingkungan Deplu.
"Saya tunjukkan kronologinya, dia marah kepada saya. Katanya, mengapa menyerahkan anak ibu kepada orang Malaysia itu? Saya sekarang mengerti Pak Dai (Dai Bachtiar, Dubes Indonesia untuk Malaysia) tidak mau membantu ibu, karena ibu memperlakukan anak seperti itu,'" kata Daisy menirukan ucapan pejabat itu. (nik/nrl)











































