Meninggalnya Sultan bermula ketika pesawat yang membawanya dari Bandara Kalimarau Berau, Senin (20/4/2009), sekitar pukul 07.00 WITA batal mendarat di Bandara Temindung Samarinda dan mengalihkan pendaratan ke Bandara Sepinggan, Balikpapan. Pembatalan dilakukan karena sebagian areal bandara terendam banjir.
Setiba di Balikpapan, Sultan ditemani ibunya dan seorang dokter spesialis anak dari RSUD Berau melanjutkan perjalanannya ke Samarinda dengan menggunakan taksi. Selama di perjalanan yang memakan waktu 2 jam itu, kondisi Sultan yang menderita penyakit kelainan usus pencernaan itu terus memburuk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari Jl Pahlawan, bayi itu digendong ibunya menerobos banjir sambil membawa selang infus anaknya," kata Humas RSUD Abdul Wahab Syachranie Samarinda, tempat Sultan dirawat, dr Nurliana Adriati Noor ketika dihubungi detikcom, Senin (20/04/2009).
Penderitaan Sultan tertolong oleh pengendara roda empat yang iba melihat perjuangan sang ibu yang berupaya menerobos banjir dan membawanya ke rumah sakit. Tiba sekitar pukul 11.00 WITA di Unit Gawat Darurat (UGD), Sultan langsung mendapat perawatan darurat tenaga medis.
Namun sayang, dalam kondisi yang terus memburuk selama di perjalanan dari Balikpapan, sekitar 1 jam kemudian nyawa Sultan tak bisa diselamatkan. "Kami sudah berupaya memberi pertolongan medis yang kami nilai sangat tanggap. Tapi takdir berkata lain," ujar Nurliana.
Dalam diagnosa awal, Sultan, menderita invaginasi atau intususepsi, yaitu gangguan usus yang masuk ke dalam usus bagian belakang sehingga terjadi penjepitan usus.
"Gangguan itu menyebabkan gangguan aliran darah ke usus. Tapi kondisi bayi sudah sangat tidak baik. Menyedihkan, kondisi anak seusianya meregang nyawa di tengah banjir," tutup Nurliana.
(sho/sho)











































