"Dia ini keterangannya berubah-ubab. Pertama dia mengaku disuruh temannya Hermanto yang juga seorang satpam, katanya dia hanya mengikuti saja. Temannya itu mau mencuri, dan dia hanya mengikuti. Tapi setelah kita periksa temannya ternyata tidak ada kaitan," kata Direskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol M Iriawan saat dihubungi melalui telepon, Minggu (12/4/2009).
Iriawan melanjutkan, setelah itu pengakuan Mulyadi berubah kembali. "Dia mengaku disuruh seseorang SGA, tapi setelah di cross check, tidak ada kaitannya juga," tambah Iriawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, Mulyadi juga mengaku melakukan perbuatan itu karena terdesak butuh uang. "Kita juga cek komunikasi dia, intensitas dengan yang menyuruh. Tapi ini tidak ada. Yang jelas dia eksekutor, sedang kita dalami apakah dia di suruh atau sendiri," tambahnya.
Iriawan melanjutkan, bila nanti kalau Mulyadi pelaku tunggal akan diusut apa motifnya, dan juga kalau nanti ada yang menyuruh kita juga menyelidiki apa motifnya juga.
"Kita juga memanggil pihak Garda Tama yang mempekerjakan dia, kita tanya dapat dia dari mana, kenapa bisa mempekerjakan dia, siapa yang mengirimnya," imbuhnya.
Selain soal pengakuan pembunuhan, Mulyadi juga berubah-ubah pengakuannya mengenai lokasi pembunuhan. "Dia bilang lantai 6, kemudian lantai 7. Yang jelas pengakuan dia, Elen dibunuh karena melawan," tutupnya.
(ndr/djo)










































